
DENPASAR, BALIPOST.com – Pemerintah Provinsi Bali mulai mempersiapkan pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di kawasan Pesanggaran, Denpasar Selatan. Gubernur Bali, Wayan Koster bersama Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Maruli Simanjuntak meninjau langsung kick off pematangan lahan proyek tersebut di area milik PT Pelindo, Jumat (22/5) siang.
Peninjauan turut dihadiri Bupati Badung, Wali Kota dan Wakil Wali Kota Denpasar, Pangdam IX/Udayana, Deputi Bidang Koordinasi Keterjangkauan dan Keamanan Pangan Kemenko Pangan, Kepala PPLH Bali Nusra, perwakilan BPI Danantara, serta sejumlah instansi terkait lainnya.
Dalam peninjauan itu, rombongan melihat langsung proses pemadatan lahan yang telah berlangsung sejak dua hari terakhir. Sejumlah alat berat tampak bekerja meratakan dan memadatkan area yang nantinya menjadi lokasi pembangunan fasilitas insinerator PSEL pertama di Bali.
Selain alat berat, puluhan truk pengangkut tanah terlihat antre di sepanjang akses masuk Tol Bali Mandara untuk mendukung percepatan penataan lahan. Setelah peninjauan lapangan, rombongan melanjutkan dengan diskusi teknis terkait tahapan pembangunan proyek strategis tersebut.
Perwakilan BPI Danantara, Maulana bersama Deputi Bidang Koordinasi Keterjangkauan dan Keamanan Pangan Kemenko Pangan, Nani Hendiarti, memaparkan perkembangan awal proyek PSEL Bali. Pemerintah pusat diketahui telah menetapkan perusahaan asal Tiongkok, Zhejiang Weiming sebagai pemenang tender proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik di Bali.
Sementara itu, pemerintah daerah mendapat tugas menyiapkan lahan pembangunan fasilitas pengolahan sampah tersebut. Lokasi yang dipilih berada di atas lahan seluas enam hektare milik PT Pelindo di Banjar Pesanggaran, Kelurahan Pedungan, Kecamatan Denpasar Selatan.
Pembangunan PSEL ditargetkan rampung dalam waktu 18 bulan setelah lahan dinyatakan siap bangun. Nantinya fasilitas ini akan menjadi pusat pengolahan sampah regional yang mengubah sampah menjadi energi listrik untuk kemudian disalurkan dan dijual ke PLN.
Keberadaan PSEL diharapkan menjadi solusi jangka panjang penanganan persoalan sampah di Bali sekaligus mendukung pengembangan energi terbarukan di Pulau Dewata.
Sebelum turun ke lokasi, Maruli Simanjuntak menegaskan kesiapan TNI AD mendukung penanganan sampah terpadu di Bali melalui teknologi pirolisis saat kunjungan kerja di Rumah Jabatan Gubernur Bali Jaya Sabha, Denpasar, Jumat (22/5).
Dalam kunjungan tersebut, KASAD didampingi Pangdam IX/Udayana Piek Budyakto bersama jajaran pejabat utama TNI AD dan staf Kementerian Koordinator Bidang Pangan RI. Rombongan disambut langsung Gubernur Bali Wayan Koster sebelum mengikuti rapat koordinasi terkait pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) dan peninjauan calon lokasi PSEL terbaru di Bali.
Turut hadir dalam rapat tersebut Wali Kota Denpasar, Bupati Badung, Danrem 163/Wira Satya, para Asisten Kasdam IX/Udayana, Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali, serta sejumlah pejabat terkait lainnya.
Dalam arahannya, Jenderal Maruli menyebut teknologi pirolisis menjadi salah satu solusi cepat dan ramah lingkungan dalam mengatasi persoalan sampah di Bali. Menurutnya, metode tersebut memiliki sejumlah keunggulan, mulai dari tidak membutuhkan subsidi pemerintah, minim emisi terbuka, hingga mampu menghasilkan bahan bakar terbarukan dari pengolahan sampah.
“TNI AD siap membantu mendukung sistem pengambilan dan pengelolaan sampah di Bali agar penanganannya lebih terpadu dan cepat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, program tersebut membutuhkan dukungan penyediaan lahan sekitar lima hektare dengan kapasitas pengolahan mencapai 100 ton sampah per hari. Selain itu juga diperlukan dukungan administrasi, jaminan penjualan solar hasil pengolahan, serta kerja sama jangka panjang selama 30 tahun.
Ia juga menyebut proyek berbasis pirolisis itu ditargetkan sudah dapat beroperasi pada April 2027.
Sementara itu, pada kesempatan tersebut Gubernur Koster menegaskan persoalan sampah telah menjadi tantangan serius bagi Bali sebagai destinasi pariwisata dunia. Menurutnya, peningkatan volume sampah dari rumah tangga dan sektor pariwisata harus diimbangi dengan sistem pengelolaan modern dan berkelanjutan.
Koster menegaskan pembangunan PSEL harus berjalan secara transparan dan melibatkan masyarakat sekitar. “Aspirasi masyarakat harus didengar dan menjadi bagian penting dalam proses perencanaan maupun pelaksanaan proyek ini,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan bahwa proyek PSEL yang sedang dipersiapkan saat ini ditargetkan mulai beroperasi pada Desember 2027 sebagai solusi jangka panjang pengurangan sampah sekaligus mendukung ketahanan energi Bali.
Dalam kesempatan yang sama, Staf Kementerian Koordinator Bidang Pangan RI, Neni, memaparkan pentingnya pengelolaan sampah berbasis sumber sesuai Pergub Bali Nomor 47 Tahun 2019. Pemilahan sampah organik, plastik bernilai ekonomis, dan limbah rumah tangga dinilai harus dimulai dari tingkat rumah tangga.
Sampah organik disebut dapat diolah menjadi kompos, pupuk cair hingga budidaya maggot atau Black Soldier Fly (BSF). Sedangkan teknologi PSEL dan pirolisis dinilai mampu membantu mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung yang selama ini menjadi persoalan utama di Denpasar Raya.
Bali sendiri kini ditetapkan sebagai salah satu daerah pilot project teknologi pirolisis bersama sejumlah kota besar lain seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Bogor, dan Semarang.
Sinergi antara TNI AD, pemerintah daerah, dan kementerian terkait diharapkan mampu mempercepat terwujudnya sistem pengelolaan sampah modern dan berkelanjutan demi menjaga citra Bali sebagai destinasi pariwisata dunia yang bersih dan sehat. (kmb/balipost)










