Petugas melakukan evakuasi saat longsor di kawasan Turyapada Tower, Buleleng. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Gubernur Bali, Wayan Koster, menanggapi peristiwa longsor yang menyebabkan robohnya satu unit rumah warga di kawasan Jalan Turyapada Tower, Desa Adat Amerta Sari, Kabupaten Buleleng.

Ia menegaskan longsor tersebut tidak berasal dari bangunan utama Turyapada Tower.

“Yang longsor itu bukan bangunan. Itu lahan di bawah, jaraknya sekitar 50 meter dari lokasi Turyapada Tower. Lahannya memang miring dan terjadi longsor karena hujan deras,” ujar Koster saat ditemui Rapat Paripurna DPRD Bali, di Wiswa Sabha Utama, Kantor Gubernur Bali, Rabu (14/1).

Koster menjelaskan, lahan tersebut memang masuk dalam rencana pembebasan untuk pembangunan lintasan gondola menuju Turyapada Tower. Saat ini proses administrasi dan penyiapan dokumen masih berlangsung, termasuk penentuan luasan lahan yang akan dibebaskan.

Baca juga:  Hujan Deras, Pohon Tumbang dan Longsor Terjadi di Gianyar

“Itu memang lahan yang akan dibebaskan untuk gondola. Sekarang masih proses, termasuk penguncian lahan (penlock). Lintasannya nanti lebih dari 900 meter,” jelasnya.

Terkait keamanan kawasan, Koster menegaskan longsor terjadi karena belum adanya konstruksi penguatan di lokasi tersebut. Ia memastikan, ketika pembangunan gondola dilaksanakan, aspek keselamatan akan menjadi prioritas utama.

“Sekarang kan belum ada konstruksi. Hujan besar ya longsor. Nanti kalau sudah ada konstruksi, tentu akan aman,” tegasnya.

Sebelumnya, hujan deras yang mengguyur wilayah Buleleng pada Minggu (11/1) sekitar pukul 20.00 WITA menyebabkan material longsor menimpa satu unit rumah warga. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.

Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Kominfos) Provinsi Bali, Gede Pramana, mengungkapkan bahwa kawasan Turyapada saat ini masih dalam tahap pekerjaan lanjutan atau tahap II, termasuk pekerjaan konduksi. Ia menyebut wilayah tersebut memang tergolong daerah kritis dan rawan longsor saat hujan dengan intensitas tinggi.

Baca juga:  Pergub Busana Adat Mampu Tingkatkan Omzet Perajin dan Pedagang

“Longsor terjadi di badan jalan selebar kurang lebih tiga meter. Material longsoran menutup akses jalan dan berdampak pada satu rumah warga yang berada tepat di bawah jalan,” ungkap Pramana, Selasa (13/1).

Ia menjelaskan, secara teknis lokasi rumah tersebut berada di zona rawan dan tidak ideal untuk permukiman. Rumah yang terdampak diketahui masih bersifat non permanen dengan struktur bambu dan atap seng.

Akses jalan yang sempat tertutup material longsor berhasil dibuka kembali pada Senin (12/1) sekitar pukul 14.00 Wita dan kini sudah dapat dilalui kendaraan. Keluarga terdampak sempat dievakuasi ke kawasan Turyapada Tower sebelum kembali ke rumah orang tua mereka di Desa Lemukih.

Baca juga:  Korban KMP Tunu di Banyuwangi Dapat Santunan

Pramana menegaskan, longsor tersebut tidak berasal dari bangunan tower. “Jarak longsor dari bangunan utama tower sekitar 50 meter. Ini murni longsor di badan jalan, bukan dari tower,” tegasnya.

Pemerintah Provinsi Bali saat ini tengah melakukan pemulihan lahan dan kajian lanjutan, termasuk opsi relokasi, mengingat kondisi kontur tanah yang lemah dan berisiko tinggi. Pemprov Bali juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada di tengah cuaca ekstrem serta tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi.

“Kawasan Turyapada telah ditutup sejak proses lelang terakhir demi keselamatan. Penataan kawasan tahap II akan terus dipercepat,” pungkas Pramana. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN