
DENPASAR, BALIPOST.com – Selama dua minggu terakhir, tepatnya 1-13 Januari 2026, terdapat 6 kapal pesiar sandar di Pelabuhan Benoa. Peningkatan kunjungan kapal pesiar internasional ke Pelabuhan Benoa pada awal 2026 ini tidak hanya memperkuat sektor pariwisata, tetapi juga memberikan efek berganda (multiplier effect) yang luas bagi perekonomian Bali.
Menurut General Manager Pelabuhan Benoa, Agung Mataram, Selasa (13/1), enam kapal pesiar yang sandar di Benoa membawa total sekitar 5.500 penumpang dan 2.802 kru.
Ia menyampaikan selama berada di Bali, mayoritas penumpang kapal pesiar mengikuti paket shore excursions yang menyasar destinasi wisata berbasis alam dan budaya, khususnya yang diminati segmen usia 50 tahun ke atas.
Sejumlah destinasi favorit antara lain kawasan Ubud–Campuhan, Kintamani, Desa Wisata Penglipuran, serta wilayah pesisir seperti Amed. Pada kapal tertentu, sebagian wisatawan bahkan memilih paket menginap untuk memperpanjang masa tinggal di Bali.
Aktivitas wisata ini berdampak langsung pada perputaran ekonomi lokal. Berdasarkan estimasi industri pariwisata, rata-rata belanja wisatawan kapal pesiar berkisar antara 100 hingga 1.000 dolar AS per orang, mencakup transportasi, paket wisata, kuliner, belanja suvenir, hingga jasa pendukung lainnya.
Dengan ribuan penumpang yang datang dalam waktu relatif singkat, nilai ekonomi yang beredar diperkirakan signifikan. Pemetaan awal menunjukkan puluhan hingga lebih dari 30 UMKM terlibat secara langsung dalam rantai layanan kapal pesiar di sekitar Pelabuhan Benoa, mulai dari transportasi, penyedia jasa tur, hingga kuliner.
Sementara secara tidak langsung, jumlah UMKM terdampak di seluruh Bali diperkirakan jauh lebih besar, seiring keterkaitan sektor pariwisata dengan berbagai aktivitas ekonomi harian.
“Kalau dibayangkan, sekitar 5.000 wisatawan datang bersamaan, dampaknya bukan hanya ke sektor wisata utama. Dari restoran, galeri, transportasi, hingga pekerja harian seperti pedagang sayur dan jasa laundry ikut merasakan perputaran ekonomi, karena pekerja pariwisata juga membelanjakan pendapatannya di Bali,” katanya. (Suardika/bisnisbali)










