
DENPASAR, BALIPOST.com – Sebanyak 61 kapal pesiar internasional dijadwalkan sandar di Pelabuhan Benoa sepanjang 2026. Dari jumlah tersebut, sekitar 19 unit kapal merupakan kapal pesiar berukuran besar dengan kapasitas penumpang tinggi.
Kehadiran kapal-kapal tersebut diproyeksikan membawa sekitar 55.000 hingga 65.000 penumpang (passenger/pax) ke Bali.
General Manager PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Cabang Benoa, Anak Agung Gde Agung Mataram, menyampaikan estimasi jumlah penumpang tersebut sangat bergantung pada dominasi kapal-kapal besar dalam jadwal sandar tahun 2026.
“Kurang lebih 55 sampai dengan 65 ribu pax penumpang. Itu juga sangat dipengaruhi oleh jumlah kapal yang berukuran besar dan tinggi. Sebanyak 19 unit kapal berukuran besar dan tinggi dengan kapasitas penumpang rata-rata 3.000-an. Sebagaian besar adalah penumpang yang tergolong quality tourism,” ujar Agung Mataram, Jumat (2/1).
Ia menegaskan, rencana kedatangan puluhan kapal pesiar ini menjadi indikator kuat pemulihan dan pertumbuhan sektor pariwisata bahari Bali, sekaligus memperkuat posisi Pelabuhan Benoa sebagai home port dan port of call kapal pesiar di kawasan Indonesia bagian timur.
“Berdasarkan jadwal rencana kunjungan kapal pesiar tahun 2026, Pelabuhan Benoa akan melayani sebanyak 61 kunjungan kapal dengan berbagai ukuran dan segmentasi, mulai dari kapal ekspedisi hingga kapal pesiar kelas dunia. Ini merupakan bentuk kepercayaan besar dari pelaku industri pelayaran internasional terhadap kesiapan Pelabuhan Benoa,” jelasnya.
Agung Mataram menjelaskan, jadwal kunjungan kapal pesiar tersebut tersebar hampir sepanjang tahun, dengan intensitas kedatangan tertinggi terjadi pada periode Januari-Maret serta Oktober-Desember 2026. Sejumlah kapal pesiar besar yang dijadwalkan sandar di Pelabuhan Benoa antara lain Queen Anne, Royal Princess, Genting Dream, Celebrity Solstice, Ovation of the Seas, hingga Costa Serena, dengan bobot kapal yang mencapai lebih dari 150.000 gross tonnage (GT).
“Pelabuhan Benoa tidak hanya berfungsi sebagai titik sandar kapal, tetapi juga melayani aktivitas turn around, yaitu proses naik dan turun penumpang dalam jumlah besar secara bersamaan. Aktivitas ini memiliki efek berganda yang signifikan, baik bagi pelabuhan maupun bagi sektor pariwisata, transportasi, perhotelan, UMKM, serta perekonomian masyarakat Bali secara luas,” ungkapnya. (Ketut Winata/balipost)










