
SINGARAJA, BALIPOST.com – Program revitalisasi sekolah di Kabupaten Buleleng yang didanai pemerintah pusat pada tahun 2025 telah rampung dilaksanakan. Sebanyak 59 satuan pendidikan dari seluruh jenjang, mulai TK, SD hingga SMP, telah menyelesaikan proses revitalisasi. Untuk tahun 2026, Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Buleleng kembali mengusulkan puluhan sekolah untuk memperoleh bantuan serupa.
Kepala Disdikpora Buleleng, Ida Bagus Surya Bharata, saat dikonfirmasi Minggu (11/1), mengatakan bahwa seluruh program revitalisasi sekolah tahun 2025 telah berjalan dan sebagian besar telah diselesaikan. Hanya satu sekolah yang penyelesaiannya masih tersisa sekitar 20 persen akibat kendala cuaca.
“Untuk revitalisasi sekolah sudah berjalan semua. Yang tahun 2025 sudah tuntas. Hanya satu sekolah yang belum selesai, diberikan waktu sampai 14 Januari,” ujarnya.
Ia menjelaskan, keterlambatan penyelesaian tersebut murni disebabkan faktor cuaca, terutama curah hujan yang tinggi sehingga menghambat proses pengerjaan. Namun demikian, pihaknya optimistis pekerjaan dapat diselesaikan sesuai komitmen kerja sama.
“Kalau sanksi di PKS tidak ada, yang ada itu komitmen penyelesaian. Teman-teman di satuan pendidikan sudah bekerja optimal. Ini memang karena faktor cuaca saja,” jelasnya.
Lebih lanjut Surya Bharata menyampaikan, untuk tahun 2026 Disdikpora Buleleng telah mulai melakukan pendataan dan pengusulan kembali sekolah-sekolah yang membutuhkan perbaikan prasarana. Pemerintah pusat telah memberikan kuota awal yang sifatnya masih tentatif.
“Untuk tahun 2026 kita sudah mulai pendataan lagi. Sudah diberikan beberapa kuota, namun belum ada kepastian final. Di jenjang TK ada sekitar 15 sekolah, SD 15 sekolah, dan SMP juga 15 sekolah untuk tahap pertama,” katanya.
Ia menambahkan, seluruh sekolah yang masuk dalam kuota tersebut telah melakukan pendaftaran melalui sistem dan telah melalui proses verifikasi serta validasi kelayakan. Namun penetapan by name by address masih menunggu keputusan pemerintah pusat.
“Karena ini sifatnya kuota, bisa saja nanti berkurang atau bertambah. Yang menentukan tetap pusat, termasuk sekolah mana yang didahulukan di tahap berikutnya,” imbuhnya.
Menurutnya, revitalisasi tidak hanya menyasar sekolah di wilayah pinggiran, melainkan tersebar di seluruh wilayah Buleleng. Penetapan sekolah penerima bantuan didasarkan pada tingkat kerusakan bangunan serta pertimbangan teknis lainnya.
Ia mengungkapkan, jumlah sekolah di Buleleng yang mengalami kerusakan mencapai lebih dari seratus unit. Namun kerusakan tersebut bervariasi, tidak seluruhnya masuk kategori rusak berat.
“Kalau dihitung, sekitar seratus dua puluhan sekolah kondisinya rusak, tidak semuanya rusak berat. Yang rusak berat sebagian sudah tercover lewat program revitalisasi ini,” terangnya. (Yudha/balipost)










