Sejumlah pemedek melakukan persembahyangan dengan jarak yang telah diatur di Tirta Sudamala, saat hari Banyu Pinaruh, Minggu (5/7/2020). (BP/Dokumen)

DENPASAR, BALIPOST.com – Sehari setelah Hari Suci Saraswati, Umat Hindu biasanya melakukan ritual Banyu Pinaruh.

Menariknya, Hari Banyu Pinaruh kali ini, Minggu (7/9) bertepatan dengan Purnama dan terjadinya fenomena Gerhana Bulan Total.

Menurut Sulinggih Ida Pandita Mpu Siwa Budha Daksa Darmita dari Geria Agung Sukawati, Gianyar ketika Banyu Pinaruh bertepatan dengan purnama sekaligus Bulan Bulan Total memberikan pengaruh sangat positif “nugraha” maha dahsyat kepada umat pada hari tersebut.

Baca juga:  Di Yogyakarta Penyebaran Nyamuk Wolbachia Juga Sempat Tuai Penolakan, Kini Diklaim Efektif

Jika umat manusia melaksanakan ritual dan dibarengi dengan spiritual sebagai esensinya, agar berpeluang besar mendapatkan “kesidhian” (kerti-yusa-bala-yasa) sebagai sumber kehidupan tidak terbatas.

Namun demikian, ada larangan dalam melaksanakan sesuatu pada hari itu. Yaitu, hindari yang berlawanan dengan tri kaya parisudha yang tri mala, yakni tiga jenis kekotoran atau sifat buruk manusia “moha-mada-kasmala” yang disebabkan oleh nafsu yang tak terkendali.

Hendaknya melaksanakan pengacinira, yakni brata-tapa-yoga-samadi, dan jauhkan perilaku anarkisme dan perilaku brutal lainnya.

Baca juga:  Gelar Pilkada Serentak 2020, Bawaslu Bali Diusulkan Anggaran Rp 50 Miliar

Ida Sulinggih menyarankan agar upakara yang digunakan pada hari ini yaitu banten suci atau pejati, tebasan/sesayut prayascita untuk penyucian pikiran sadar dan bawah sadar. Sesayut sidapurna untuk meraih kesempurnaan kehidupan.

“Itu banten pokok atau inti, paling pokok adalah soda lan canang sari cukup sangat fleksibel beragama Hindu,” ujarnya, Sabtu (6/9). (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN