
DENPASAR, BALIPOST.com – Pelaksanaan malam takbiran yang bertepatan dengan Hari Suci Nyepi di Bali dipastikan tetap berlangsung dengan pengaturan khusus agar tidak mengganggu kesucian Nyepi. Pengaturan tersebut disepakati bersama oleh pemerintah daerah dan tokoh lintas agama sebagai wujud menjaga harmoni kehidupan masyarakat Bali yang plural.
Ketua Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali, Ida Pengelingsir Agung Putra Sukahet menegaskan bahwa pembatasan pelaksanaan takbiran bukan untuk mengurangi maknanya, melainkan agar kedua perayaan besar dapat berjalan berdampingan dengan tertib dan saling menghormati.
Hal tersebut disampaikannya usai menghadiri Gelar Agung Pecalang Bali 2026 di Lapangan Puputan Margarana Niti Mandala Renon, Sabtu (7/3).
Menurutnya, pemerintah daerah bersama unsur Forum Kerukunan Umat Beragama telah menerbitkan surat edaran bersama terkait pelaksanaan takbiran yang bertepatan dengan Nyepi Tahun Baru Saka 1948. Edaran tersebut disepakati bersama oleh Wayan Koster, unsur TNI, serta kepolisian untuk memastikan kedua perayaan berlangsung aman.
Dalam aturan tersebut, takbiran tetap diperbolehkan namun dengan sejumlah ketentuan. Kegiatan dilakukan dengan berjalan kaki menuju masjid terdekat tanpa pengeras suara serta tidak menimbulkan kebisingan. Setelah selesai, masyarakat diminta langsung kembali ke rumah dan tidak melakukan aktivitas di luar.
Sukahet menilai pengaturan tersebut merupakan wujud nyata toleransi yang selama ini menjadi ciri kehidupan masyarakat Bali. Menurutnya, Nyepi yang bertepatan dengan hari besar agama lain bukanlah hal baru.
“Takbiran boleh tetapi dengan syarat yang cukup ketat tanpa mengurangi makna takbiran itu sendiri. Ini justru menunjukkan Bali menjadi barometer toleransi dan kerukunan untuk Indonesia,” ujarnya.
Ia menambahkan, kehidupan masyarakat Bali yang majemuk selama ini telah terbiasa menjalankan berbagai perayaan keagamaan secara berdampingan dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.
Sementara itu, Gelar Agung Pecalang Bali 2026 yang digelar menjelang Nyepi diikuti oleh belasan ribu pecalang dari desa adat di seluruh Bali. Kegiatan tersebut menjadi ajang penguatan peran pecalang dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat menjelang perayaan hari suci.
Sukahet menyebut jumlah peserta bahkan melampaui perkiraan awal. Dari target sekitar 10 ribu orang, peserta yang hadir diperkirakan mencapai 12 hingga 15 ribu pecalang dari berbagai desa adat.
Antusiasme tersebut dinilai menjadi modal penting dalam menjaga stabilitas keamanan Bali, khususnya saat perayaan Nyepi yang tahun ini berdampingan dengan malam takbiran menjelang Idul Fitri.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyinggung keberadaan pecalang perempuan yang mulai muncul di sejumlah desa adat. Meski jumlahnya masih ratusan orang di seluruh Bali, keberadaan mereka dinilai menjadi motivasi bagi desa adat lain untuk membuka ruang partisipasi perempuan dalam menjaga keamanan adat.
“Ini motivator yang luar biasa. Mudah-mudahan nanti semakin banyak desa adat yang meniru,” katanya.
Melalui penguatan peran pecalang dan kesepakatan bersama lintas agama, ia optimistis pelaksanaan Nyepi dan takbiran tahun ini tetap berlangsung aman, tertib, serta menjadi contoh toleransi bagi daerah lain di Indonesia. (Ketut Winata/balipost)










