Ngurah Weda Sahadewa. (BP/Istimewa)

Oleh Sahadewa

Kebudayaan dengan kenyataan budayanya. Ini berarti bahwa tidak ada kebudayaan dengan tanpa adanya praktik budaya. Keadaan masyarakat yang sekiranya datang dengan sebuah kebudayaan memunculkan suatu tesis baru bahwa masyarakat yang bersangkutan mampu sekiranya dalam menyesuaikan atas apa yang terjadi di dalam kenyataan yang didatangi itu.

Inilah yang penulis sebut sebagai kultur organik. Ini berarti bahwa kehidupan mesti dihargai secara lebih menunjukkan adanya kehidupan yang nyata adanya dan ini dilakukan dengan dasar merasakan langsung dampak atas terjadi hidup di dalam kehidupan masing-masing.

Bila datangnya kebudayaan dapat dicari berdasarkan atas kedatangan suatu masyarakat maka yang terjadi adalah akulturasi budaya namun tidak semua itu disebut sebagai budaya yang terakulturasikan melainkan mesti percaya diri bahwa dirinya itu sebagai bagian yang terpenting untuk menentukan dirinya sendiri dalam kenyataan.

Inilah kunci dalam berkebudayaan. Kunci itu tidak sebagai semata-mata pembuka pintu akan tetapi untuk menutup ataupun menyegel agar tidak sembarang orang yang tidak bertanggung jawab masuk dan keluar.

Kunci kebudayaan yang utama sesungguhnya mampu ditemukan dalam kebudayaan itu sendiri dengan dasar pencarian yang seksama atas dasar kefilsafatan budaya setempat. Ini berarti pengetahuan tentang setempat itu tidak hanya diketahui melainkan disadari lingkup dan cakupan maupun batas-batas tidak hanya teritorialnya melainkan kebudayaannya yang lembut mesti dikenali dan inilah kunci pokok.

Baca juga:  40 Hektar Perkebunan Kopi Pupuan Lolos Penilaian Sertifikasi Organik

Ketika kehidupan dijadikan sebagai sebuah kultur maka yang terjadi adalah kultur yang menentukan hidup di dalam kehidupan. Inilah yang sangat rentan untuk mampu dijadikan pemikiran yang tidak kritis jika kultur tidak disebut sebagai penuntun agar hidup lebih berkebudayaan secara berkelanjutan yang kritis terhadap masa depan. Inti masa depan adalah ketika organik disadari untuk dapat semakin ditunjukkan kegunaannya.

Kegunaan dari kultur organic adalah sebagai berikut memberikan kesadaran bahwa hidup diperlakukan dengan hidup dan kehidupan diperlakukan dengan adanya kehidupan. Ini berarti kultur organic dimengerti dengan jalan menetapkan hidup dengan kehidupan yang tidak hanya dekat melainkan melakukan praktik kehidupan yang menunjukkan penghargaan yang tinggi terhadap sesuatu yang hidup itu.

Bila kultur organik terselenggara dalam konteks kebudayaan yang terjadi adalah kebudayaan itu sendiri menerapkan kenyataan hidup yang sesungguhnya. Kenyataan hidup yang sesungguhnya bukan sekedar daur ulang namun sedari permulaan sudah ada kesadaran untuk tidak menerapkan sesuatu yang menjadikan hidup jadi semakin berat. Berat karena penerapan kultur yang anorganik.

Baca juga:  Minat Petani Rendah Pakai Pupuk Organik

Jika suatu bentuk kultur organik telah mampu untuk menggerakkan suatu bentuk dan pola inisiatif tertentu dan tersendiri maka sudah selanjutnya tidak terikat atas bentuk dan pola itu. Ini berarti belajar dari sesuatu yang hidup (organik) dapat menghidupkan. Itu berarti organik dimengerti sesuatu yang menunjang kehidupan. Itulah hidup.

Saling menunjang satu sama lain. Keberadaan dari suatu kultur yang organik (hidup) dapat menunjukkan kehidupan yang benar-benar saling menghargai. Itulah sebabnya budaya Bali ataupun budaya manapun yang organik sebetulnya memuat pesan dan filosofi yang mengarahkan penciptaan termasuk teknologi yang menunjang kehidupan secara nyata.

Nyata berarti benar-benar mampu memberikan penghargaan dan penghormatan atas segala sesuatu atas dasar pengetahuan saling berkaitan dan berhubungan satu sama lainnya itu sehingga tidak ada yang dirugikan.

Baca juga:  Dampak Penerbangan Bersertifikat Vaksinasi Terhadap Pariwisata Bali

Keadaan dalam kenyataan hidup dengan dasar pengertian organik dari dulu sudah dilaksanakan secara sempurna dalam pengertian yang wajar. Itulah para leluhur di masa tertentu sudah menentukan penggunaan kesuburan dalam kehidupan dengan memperhatikan antitoksik.

Itulah yang kemudian dasar dari kehidupan adalah normal natural. Norma natural itu dimengerti dengan sadar bahwa kenyataan hidup dalam kehidupan itu berjalan karena tidak ada racun yang beredar dalam batas yang dimengerti. Dalam pada itu sudah pasti kehidupan menjadi lebih seimbang karena tubuh sudah mampu mengantisipasi secara terbatas. Itulah yang disebut kultur organik.

Kultur organik sendiri sebagai peralatan bukan sebagai tujuan melainkan lebih kepada kesadaran agar tubuh dan kemudian jiwa manusia maupun yang hidup perlu selalu dipelihara agar kehidupan tidak disibukkan oleh sesuatu yang sebetulnya tidak perlu. Seterusnya produktivitas hidup terselenggara. Itulah yang menjadikan kehidupan natural tidak dimengerti secara kolot melainkan disadari karena pengetahuan yang semakin lengkap atas dasar kehidupan yang berantai dengan dasar saling berinteraksi secara konstruktif satu sama lainnya itu.

Penulis, Dosen Fakultas Filsafat UGM

BAGIKAN