Bupati Jembrana I Nengah Tamba saat meninjau lokasi abrasi di pantai Pebuahan, Banyubiru beberapa waktu lalu. Senderan penanggulangan abrasi setelah penantian 10 tahun akhirnya terlaksana tahun ini. (BP/Ist)

NEGARA, BALIPOST.com – Pembangunan senderan pantai Pebuahan, Desa Banyubiru, Kecamatan Negara, sudah dipastikan terlaksana. Karena itu, Bupati Jembrana I Nengah Tamba mengimbau masyarakat untuk mendukung penuh pelaksanaan pembangunan proyek senderan yang sudah ditunggu warga selama sepuluh tahun lebih ini.

Bupati Tamba menjelaskan, pembangunan senderan ini merupakan upaya dari warga dan pemerintah, sehingga pemerintah pusat yang memiliki kewenangan pembangunan senderan mengalokasi anggaran miliaran. “Bupati mengajak warga Pebuahan mensyukuri terlaksananya projek ini,” ujarnya, Selasa (7/5).

Bentuk syukur pembangunan proyek senderan ini, tidak hanya kepada Tuhan, tetapi juga dalam bentuk dukungan kepada pembangunan dan pemerintah. Bupati Tamba mengajak mendukung pembangunan proyek ini dalam bentuk apapun, misalnya mempermudah akses pelaksana proyek melaksanakan pembangunan senderan. “Dukungan penuh masyarakat, sangat dibutuhkan terlaksananya proyek ini,” tegasnya.

Selain itu, Bupati Tamba meminta permakluman warga sekitar pantai yang dekat dengan lokasi pembangunan senderan. Karena selama 240 hari pengerjaan, tentunya akan banyak aktivitas pekerjaan di pantai yang mengerjakan proyek. Segala bentuk apapun yang berpotensi menimbulkan masalah yang menganggu terlaksananya proyek, harus diselesaikan secara musyawarah. “Justru warga yang harus menjadi benteng mengamankan proyek ini agar terlaksana dengan baik,” tegasnya.

Baca juga:  Dewan Usul Bantuan untuk Wartawan

Bupati Tamba juga mengajak masyakarat untuk mengawasi juga pembangunan proyek senderan ini terlaksana sesuai dengan perencanaan dan harapan masyarakat. “Peran serta masyarakat sangat penting agar pembangunan senderan ini bisa terlaksana dengan baik,” terangnya.

Bupati Tamba juga meminta warga agar memaklumi apabila nantinya, pada pelaksanaan pembangunan ada bangunan terdampak. Karena apabila nantinya ada protes warga atau warga menolak bangunan dihilangkan, bisa berdampak luas pada pembangunan senderan. “Warga harus lebih bijak menyikapi, karena pembangunan ini untuk kepentingan umum masyarakat luas,” terangnya.

Baca juga:  KTT G20 Diramaikan Pameran KBLBB

Pada intinya, pembangunan ini untuk kepentingan masyarakat umum, sehingga setiap warga harus mendukung. “Pemerintah tidak akan menyengsarakan warganya. Justru pemerintah menjadi garda terdepan mensejahterakan dan membahagiakan warganya,” tegasnya.

Pembangunan senderan pantai Banjar Pebuahan, berdasarkan proposal usulan Bupati Jembrana nomor 610/081/PUPRPKP/2022 pada 20 Januari 2022, kepada pemerintah pusat. Proposal dijawab dengan realisasi membangun senderan pantai pada tahun 2024.
Selain pembangunan senderan pantai di Desa Banyubiru, penanganan pantai juga dilakukan oleh pusat di pantai Pangyangan, Kecamatan Pekutatan.

Berdasarkan informasi dari LPSE Kementerian Pekerjaan Umum, pembangunan senderan dimenangkan PT. Indopenta Bumi Permai, Surabaya. Dari anggaran pagu dan HPS Rp. 23.5 miliar, pemangkasan tender menang dengan penawaran Rp 18,3 miliar. Jadwal penandatangan kontrak pada Jumat 26 April lalu.

Penanganan abrasi dengan pembangunan pengamanan pantai dengan bangunan utama dalam bentuk revetmen pasangan batu alam sepanjang 770 meter dan elevasi puncak sekitar 5 meter.

Baca juga:  Masih Ingin Bangun Bandara di "Off Shore" Kubutambahan, BIBU Beber Keuntungannya

Selain revetmen sebagai bangunan utama, juga akan dibangun fasilitas tambahan berupa walkway dari paving blok beton sepanjang 770 meter di atas puncak revetment, saluran drainase dari pasangan batu alam sebagai antisipasi overtopping gelombang.

Serta berupa fasilitas akses naik dan turun warga atau nelayan dengan delapan tangga pasangan batu sebagai akses dari perumahan warga ke puncak walkway. Fasiltas tangga ini, agar warga yang akan pantai ini untuk melaut tidak kesulitan.

Pembangunan senderan pantai ini sudah lama diharapkan warga. Selama sepuluh tahun lebih, warga selalu dihantui rasa takut. Terutama ketika purnama dan tilem, dimana air laut naik hingga ke pemukiman warga. Bahkan sudah puluhan rumah warga rusak dan hilang karena abrasi selama sepuluh tahun lebih. (Adv/Balipost)

 

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *