Sejumlah wisatawan berada di kawasan Penelokan, Kintamani. (BP/ina)

DENPASAR, BALIPOST.com – Lalat di Kintamani yang dikeluhkan pelaku pariwisata karena mengganggu kenyamanan wisatawan sumbernya dari penggunaan pupuk organik kotoran ayam mentah. Untuk mengendalikan lalat, disarankan pupuk kotoran ayam dikomposting terlebih dahulu. Ini solusi agar, pertanian dan pariwisata di Kintamani tetap berjalan beriringan.

Akademisi Pertanian dari Universitas Udayana Putu Sudiarta, Minggu (14/1) mengatakan, lalat yang berkembang di Kintamani merupakan lalat rumah, berbeda dengan lalat hijau. Berkembangnya lalat di Kintamani apalagi belakangan jumlahnya cukup banyak terjadi karena  habitatnya sangat cocok yaitu musim hujan, dan jelang musim tanam. Menjelang dan pada musim tanam petani melakukan pemupukan dengan pupuk organik.

“Dari sisi pariwisata, lalat itu tidak bagus, tidak nyaman, tapi dari sisi lain, pupuk ini diperlukan oleh petani, itu yang digunakan petani dan dicari oleh lalat sehingga sekarang musim hujan, musim tanam, petani akan menanam tomat, jeruk dan memupuk dengan pupuk organik. Ini yang mendatangkan pupuk ayam itu, itu yang membuat populasi serangga itu meningkat khususnya lalat,” ujarnya.

Baca juga:  Ngaku Dapat Bisikan Gaib, Wisatawan Korea Rusak Pura Goa Raja Besakih

Ia menampik peningkatan jumlah lalat saat ini disebut wabah. Namun kondisi itu disebut meningkat karena memang sedang musim tanam dan musim hujan, sehingga faktor pendukung tumbuhnya lalat terjadi sekaligus. “Kalau pupuknya berkurang, pasti berkurang jumlah serangganya karena tempat tinggalnya hilang,” tandasnya.

Penggunaan pupuk organik dinilai sangat menguntungkan jika ditangani dengan baik. Untuk itu agar dapat menguntungkan semua pihak, maka solusi yang dapat ditawarkan yaitu sebelum mendatangkan pupuk organik, harus dikomposting.

Sudiarta mengatakan, metamorfosis lalat sempurna yaitu ada telur, ulat, belatung, pupa, hingga menjadi lalat dewasa. “Kalau berhasil menjadi dewasa, berarti ada belatung yang tumbuh jumlahnya banyak karena mendapatkan tempat,” ujarnya.

Pada fase belatung, tumbuh pada bahan organik yang membusuk, contohnya sampah, kotoran sapi, kotoran ayam yang baunya menyengat. Bau ini yang merangsang lalat datang untuk meletakkan telur. “Bau ini yang menjadi rangsangan dia bisa mengetahui dari keberadaan bahan organik itu. Jadi tidak serta merta lalat ada tiba–tiba. Kalau ada bau, baru dia kesana meletakkan telur,” tandasnya.

Baca juga:  Jokowi Kunjungi Pasar Wonokromo

Dengan siklus tersebut, keberadaan lalat di Kintamani meningkat karena sangat terkait atau relevan dengan bahan organik yang digunakan petani untuk memupuk. Ditambah saat ini musim hujan dan petani mulai melakukan penanaman. “Yang paling besar ini adalah kotoran yang didatangkan. Petani yang mendatangkan pupuk, itulah yang menjadi sumbernya hidup,” imbuhnya.

Petani yang sangat membutuhkan pupuk organik untuk menanam tanaman hortikultura khususnya, apalagi Kintamani, Songan merupakan sentral bawang merah, di sisi lain pariwisata yang baru melejit belakangan ini merasa terganggu dengan keberadaan lalat tersebut.

Agar pariwisata dan pertanian di Kintamani dapat berjalan beriringan, maka disarankan agar pupuk kotoran ayam yang digunakan melalui proses komposting terlebih dahulu. “Jangan didatangkan mentah, karena mengundang lalat datang. Mengingat fungsi lalat menguraikan bahan organik menjadi terurai dan baunya hilang. Jadi perlu dikomposting dulu sebelum mendatangkan, sehingga lalat tidak berkembang disana,” ungkapnya.

Baca juga:  Dikeluhkan, Truk Galian C Kerap Bikin Macet Jalur Sidemen-Klungkung

Dengan cara itu menurutnya, tidak akan menghalangi petani memupuk dan lalat pun tidak akan terlalu banyak. Selain itu, umur lalat juga pendek apalagi jika tidak ada habitatnya. “Dalam bentuk larva, dia menguraikan bahan organik tapi kalau sudah jadi lalat, dia hanya menjilat cairan, air, umurnya tidak akan lama. Kalau dia terputus sekarang akan hilang karena tidak ada tempat meletakkan telur. Kalau masih ada tempat untuk meletakkan telur di kotoran ayam, atau pupuk yang masih mentah, maka tidak akan bisa mengendalikan. Jadi rugi kita membunuh serangganya ini tapi tempatnya masih ada,” tandasnya. (Citta Maya/balipost)

 

BAGIKAN