DENPASAR, BALIPOST.com – Rencana penyebaran nyamuk Wolbachia di Bali telah ditunda karena menimbulkan pro kontra di tengah masyarakat. Kontra yang terjadi disebabkan belum maksimalnya sosialisasi yang dilakukan pemerintah maupun pihak penyelenggara ke seluruh lapisan masyarakat.

Sehingga, masyarakat belum memahami sepenuhnya tentang nyamuk Wolbachia ini. Hal serupa juga terjadi pada awal pengenalan nyamuk Wolbachia di Yogyakarta.

Namun, karena masifnya sosialisasi yang dilakukan melalui pendekatan kultural di tengah masyarakat, akhirnya penyebaran nyamuk Wolbachia ini berhasil dilakukan. Bahkan, efektivitasnya diklaim telah mencapai 77 persen menurunkan angka DBD di Yogyakarta.

Baca juga:  Cegah Klaster Kegiatan Adat dan Agama, Kapolsek Selbar Tatap Muka dengan Jro Bandesa

Peneliti Pusat Kedokteran Tropis Universitas Gajah Mada Yogyakarta, sekaligus anggota peneliti World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta, dr. Riris Andono Ahmad, PhD mengatakan penolakan terhadap inovasi teknologi baru, yaitu nyamuk Wolbachia hal yang lumrah. Sebab, kata Riris dalam Seminar Inisiatif Implementasi Metode Wolbachia di Bali: Tantangan dan Peluang, yang diselenggarakan Universitas Udayana (Unud), Kamis (30/11), pelepasan telur nyamuk Wolbachia di beberapa lokasi di Yogyakarta juga sempat menuai penolakan.

Namun, setelah dilakukan sosialisasi dan mendapat dukungan dari pemerintah kabupaten/kota akhirnya program tersebut bisa terlaksana. Riris mengungkapkan bahwa Nyamuk Wolbachia pada dasarnya adalah nyamuk Aedes aegypti pembawa virus demam berdarah dengue yang di dalamnya dimasukkan bakteri Wolbachia.

Baca juga:  SMBJM, Undiksha Buka Kuota 400 Orang

Bakteri ini akan melemahkan virus dengue yang bersemayam dalam tubuh nyamuk dan menurunkan infektivitasnya. Dengan cara ini, kasus demam berdarah akan menurun.

Penelitian teknologi Wolbachia sudah dilakukan di Yogyakarta selama 12 tahun. Dimulai dari tahapan penelitian fase kelayakan dan keamanan pada 2011 hingga 2012, fase pelepasan skala terbatas di 2013 sampai 2015, fase pelepasan skala luas pada 2016 sampai 2020, dan fase implementasi pada 2021 dan 2022.

Baca juga:  Kasus COVID-19 Baru Nasional Hanya Seratusan, Korban Jiwa di Bawah 5 Orang

Studi pertama Aplikasi Wolbachia untuk Eliminasi Dengue (AWED) dilakukan di Yogyakarta dengan desain cluster randomize control trial (CRCT). Dari hasil studi, nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia mampu menurunkan kasus dengue sebesar 77 persen dan menurunkan rawat inap karena dengue sebesar 86 persen.

Bahkan dari hasil studi tersebut dan hasil di beberapa negara lain yang menerapkan teknologi WMP, teknologi Wolbachia untuk pengendalian Dengue telah direkomendasikan oleh WHO Vector Control Advisory Group sejak 2021. (Winatha/balipost)

Simak selengkapnya di video

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *