Beberapa Koleksi di Museum Gedong Kirtya Singaraja. (BP/Yud)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Kabupaten Buleleng memang kental akan budaya dan tradisi yang dimiliki. Bahkan beberapa tradisi ini masih ada yang tersimpan dan tertulis rapi di sebuah lontar. Sebut saja Lontar Sasak, merupakan lontar yang isinya tentang budaya Sasak.

Selain Lontar sasak, kita juga bisa melihat Lontar Matrastawa (mantra/puja/weda), Niticastra (etik), Wariga (astronomi dan astrologi), Tutur (petuah), Usadha (pengobatan tradisional), Geguritan (kidung), Babad Pamancangah (sejarah), Satua (cerita rakyat). Lontar – lontar ini akan kita temui ketika berkunjung ke Museum Gedong Kirtya Singaraja.

Baca juga:  Buleleng Gelar Job Fair, Libatkan Puluhan Perusahaan dan 6.579 Lowongan

Kepala UPTD Gedong Kirtya Dewa Ayu Putu Susilawati saat ditemui di ruang kerjanya beberapa waktu lalu, menyampaikan Gedong Kirtya awalnya lahir dari cendekiawan terhadap budaya yang tidak lepas dari jasa 2 orang Belanda bernama FA Liefrinck dan Dr. Van Der Tuuk.

“Mereka mengadakan rapat di Kintamani, kemudian hasil rapat tersebut lahirlah yayasan bernama Stichting Liefrinck Van Der Tuuk tanggal 2 Juni 1928 yang menitikberatkan terhadap kegiatan penyimpanan lontar, lalu namanya itu akhirnya diubah menjadi Kirtya Liefrinck Van Der Tuuk, itu atas usulan dari I Gusti Putu Jelantik,” ucapnya.

Baca juga:  Akulturasi Budaya Dipegang Teguh Masyarakat Pagayaman

Gedong Kirtya terdapat ribuan koleksi lontar tersimpan rapi dalam kotak yang disebut keropak dengan panjangnya sekitar 60 centimeter. Hal itu semua tersusun rapi berdasarkan kelompok atau klasifikasi. “Semua lontar berbahasa Jawa kuno dan Sansekerta. Cuma dalam Lontar Satua yang hanya menggunakan bahasa Bali,” jelasnya.

Terkait kedatangan wisatawan, Susilawati menyampaikan hampir setiap hari ada pengunjung yang datang ke museum Gedong Kirtya baik dari anak sekolah, sampai dengan wisatawan mancanegara. “Biasanya petugas kami memperagakan bagaimana cara menulis lontar kepada pengunjung,” terangnya.

Baca juga:  Rampung, Pembangunan Rumah Warga Korban Banjir Bandang di Yeh Mampeh

Susilawati berharap lontar yang ada di Gedong Kirtya tetap terlindungi, terjaga dan dilestarikan dengan baik serta masyarakat mau datang untuk mengenal dan mengetahui bahwa kita mempunyai lontar yang di dalamnya mengandung ilmu bekal luar biasa. (Yudha/Balipost)

BAGIKAN