Giri Tribroto. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan sebanyak dua kali dalam rentang waktu relatif dekat menjadi 4,25 persen. Hal ini dilakukan untuk merespons
kenaikan suku bunga bank sentral, The Fed dan meningkatnya inflasi di tanah air.

Kepala OJK Regional Bali Nusra, Giri Tribroto, Jumat
(30/9) mengatakan pandemi sudah hampir berlalu, tapi ada tantangan baru terkait dengan isu global, kenaikan suku bunga The Fed dan beberapa bank sentral. “Ini menjadi suatu tantangan baru yang harus kita hadapi,” kata Giri.

Namun menurutnya kondisi ini tidak bisa dibiarkan.
Saat ini regulator dan pemerintah sedang menganalisa dampak kenaikan suku bunga tersebut terhadap industri jasa keuangan. Dengan naiknya suku bunga acuan menurutnya tidak akan mempengaruhi kebutuhan kredit.

Baca juga:  Kemungkinan Bertambah, Kontak Erat 3 Kasus COVID-19

“Bahwa kebutuhan kredit tidak akan turun. Kebutuhan akan tetap ada,” ujarnya.

Bank dinilai pasti akan berhitung berapa tingkat
suku bunga yang tepat saat ini yang akan digunakan. Untuk itu, perbankan harus transparan, seperti wajib mengumumkan suku bunga dasar kredit. Meski demikian, OJK belum menentukan batas maksimal suku bunga bank. “Tapi kami imbau perbankan, bunga kredit jangan terlalu tinggi, jika angkanya masih bisa ketemu antara harapan nasabah dan kebutuan bank, maka itu diterapkan,” ujarnya.

Giri mengatakan bank di Bali diminta terus berinovasi.
Sudah mulai bergeliatnya pariwisata dengan mulai masuknya wisatawan baik asing maupun domestik, meskipun belum sesuai harapan tapi ia meminta kepada LJK melakukan inovasi untuk melayani transaksi-ransaksi yang terkait dengan pemulihan ekonomi.

Baca juga:  Pedagang di Terminal Wangaya Dipindah ke Pasar Cokroaminoto

Menurutnya masih banyak kantong-kantong yang memerlukan kredit tapi yang paling penting adalah bagaimana proyek memenuhi syarat kredit dengan
perhitungan yang akurat. “Jadi bank mesti tetap harus berhati-hati menyalurkan kredit,” imbuhnya.

Sementara itu, terkait dengan ancaman terjadinya resesi ekonomi pada tahun 2023, Akademisi Ekonomi dari Universitas Udayana Putu Krisna Adwitya Sanjaya, Jumat (30/9) mengatakan, beberapa lembaga independen dunia pernah memprediksi dunia akan menghadapi ancaman resesi. Ia melihat hal itu
merupakan salah satu dampak dari konstelasi geopolitik di Eropa Timur yang semakin memanas, ketegangan politik di Tiongkok, kenaikan suku bunga yang dilakukan The Fed dan bila segenap Bank Sentral kompak menaikkan suku bunga acuan  “Itu akan menyebabkan situasi perekonomian lesu, resesi,” ujarnya.

Baca juga:  Kebijakan Gubernur Koster "Perangi" Sampah Plastik Tuai Pujian dari Australia

Untuk itu Indonesia perlu melakukan antisipasi agar tidak masuk dalam jurang resesi sebagai akibat contagion effect dari luar atau global. “Saya kira
pemerintah sudah pada posisi on the track, terlebih juga saat ini perekonomian sudah tumbuh termasuk perekonomian Bali yang pernah punya pengalaman resesi akibat hantaman Covid-19,” ujarnya.

Menurutnya, dunia usaha harus tetap bergerak agar pertumbuhan ekonomi terjaga meski inflasi meningkat dan suku bunga kredit naik. Perbankan juga mesti tetap membiayai usaha-usaha yang prospektif dibiayai, karena hal ini akan memberikan multiflier effext bagi ekonomi. Semua pihak harus bersama-sama bertahan dari goncangan ekonomi
ini. (Citta Maya/balipost)

BAGIKAN