Aktivitas transaksi pedagang dan pembeli di Pasar Badung, Denpasar. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Optimisme pemerintah terhadap target pertumbuhan ekonomi nasional hingga 6 persen, bahkan 8 persen pada 2026, dinilai sulit terwujud di tengah tantangan global dan domestik yang kian kompleks.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara saat dihubungi menyampaikan, kondisi fundamental ekonomi belum cukup kuat untuk menopang target setinggi itu.

“Sulit ya tercapai 6 persen, apalagi 8 persen. Tantangan ekonomi makin kompleks, mulai dari kondisi geopolitik global yang chaos, berdampak ke kinerja ekspor dan investasi,” kata Bhima, Senin (2/2).

Menurut Bhima, tekanan tidak hanya datang dari eksternal. Daya beli masyarakat, terutama kelas menengah, ikut tergerus seiring kebijakan efisiensi anggaran pemerintah. Kondisi ini membuat ruang akselerasi pertumbuhan ekonomi menjadi terbatas.

Baca juga:  Sampah di Tebing Pura Rambut Siwi Terbakar 

Pihaknya memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 4,9 persen secara tahunan (yoy), dengan penopang utama berasal dari sektor pertanian, pariwisata, perdagangan makanan dan minuman, serta industri mesin.

Apakah bunga kredit tinggi jadi beban tambahan?. Bhima menilai selain faktor global dan daya beli, ia menegaskan tingginya bunga kredit perbankan turut menjadi penghambat pertumbuhan. Namun, persoalan utamanya bukan hanya soal bunga.

“Bunga kredit itu satu hal, tapi sebenarnya risiko kredit juga sedang tinggi. Kalau bunga mau turun, sisi permintaan harus dipastikan risikonya lebih terkendali,” ujarnya.

Dengan biaya pinjaman yang mahal, Bhima menilai sejumlah sektor strategis berpotensi tertahan ekspansinya, terutama properti dan kendaraan bermotor yang sangat bergantung pada pembiayaan kredit. Sebaliknya, sektor yang relatif masih mampu tumbuh adalah pariwisata, experience economy, serta transisi energi.

Baca juga:  Warung Dibobol Maling, Belasan Bungkus Rokok dan Uang Raib

Jika tren suku bunga tinggi berlanjut hingga paruh pertama 2026, Bhima menegaskan target pertumbuhan ekonomi nasional perlu disesuaikan, bukan sekadar memaksakan angka ambisius.

“Kalau dipaksakan, risikonya besar. Defisit APBN bisa makin lebar dan utang pemerintah berpotensi meningkat,” tegasnya.

Sementara di sisi lain, Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Bali tetap berada pada jalur moderat namun berkelanjutan. Kepala Perwakilan BI Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja menyebut ekonomi Bali pada 2025 diperkirakan tumbuh di kisaran 5,0–5,8 persen, meningkat pada 2026 menjadi 5,4–6,2 persen, dan kembali menguat pada 2027 di rentang 5,6–6,4 persen.

“Selain sektor pariwisata, pertumbuhan ekonomi Bali juga semakin ditopang oleh sektor unggulan lain yang muncul sebagai new hero ekonomi Bali, seperti pertanian, ekonomi kreatif, dan investasi,” ujar Erwin.

Baca juga:  Mencapai Pariwisata Berkualitas, Masalah Kemacetan Perlu Segera Dituntaskan

Dalam mendukung transformasi ekonomi Bali yang selaras dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, BI Bali menetapkan lima jurus strategis Panca Kerthi, mulai dari penguatan sektor unggulan di luar pariwisata, akselerasi pariwisata berkualitas, pengendalian inflasi dan perlindungan daya beli, peningkatan akses pembiayaan inklusif, hingga percepatan digitalisasi sistem pembayaran.

Erwin menekankan bahwa keberhasilan strategi tersebut sangat bergantung pada sinergi lintas pemangku kepentingan, baik pemerintah daerah, dunia usaha, hingga sektor keuangan. “Sinergi hari ini bukan hanya kunci kemajuan ekonomi Bali, tetapi juga investasi bagi masa depan ekonomi Bali dan bangsa Indonesia,” ujarnya. (Suardika/bisnisbali)

 

BAGIKAN