Suasana belajar mengajar di Gianyar. (BP/Dokumen)

GIANYAR, BALIPOST.com – Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Gianyar, Made Suradnya, Kamis (28/7) mengatakan ratusan sekolah sudah menerapkan Kurikulum Merdeka. Suradnya mengatakan penerapan Kurikulum Merdeka Belajar tidak hanya diterapkan di jenjang SMP melainkan juga untuk jenjang SD.

Ia mengungkapkan terdapat 341 satuan pendidikan yang terdaftar menggunakan Kurikulum Merdeka. Namun baru 339 yang sudah login menggunakan akun pembelajaran dalam Platform Merdeka Mengajar.

Baca juga:  Dari Puluhan Ribu UKM di Gianyar, Baru 25 Kantongi HKI

Kadisdik Gianyar menjelaskan ada 3 opsi dalam penerapan kurikulum merdeka, meliputi Mandiri Belajar, Mandiri Berubah dan Mandiri Berbagi. Di Gianyar, terdapat 84 satuan yang memilih opsi Mandiri Belajar, 251 satuan dengan Mandiri Berubah, dan 6 satuan memilih opsi Mandiri Berbagi.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Kabupaten Gianyar, Wayan Mawa menyampaikan kurikulum merdeka merupakan hal baru yang diterapkan dalam tahun ajaran 2022-2023. Dalam penerapan Kurikulum Merdeka perlu ada kesiapan SDM.

Baca juga:  Disdik Tabanan Rancang Pembelajaran Double Shift

Salah satu cara untuk memastikan kesiapan penerapan Kurikulum Merdeka, guru dilibatkan dalam workshop implementasi Kurikulum Merdeka yang diselenggarakan di SMPN 1 Gianyar. Para guru diarahkan mampu menerapkan Kurikulum Merdeka menuju merdeka mengajar sesuai dengan profil pelajar Pancasila.

Kepala Balai Guru Penggerak Provinsi Bali, Dr. I Wayan Surata, S.Pd., M.Pd. menyampaikan Kurikulum Merdeka ini mengakomodir kebutuhan sekolah. Sekolah bisa melakukan pelatihan mandiri dan pengembangan mandiri sementara standar standar pengembangan dikeluarkan Kemendikbudristek.

Baca juga:  Lama Belajar Daring, Perawatan Sekolah Diserahkan ke Guru

Menurutnya, guru-guru di Bali, termasuk di Kabupaten Gianyar sangat antusias mengembangkan Kurikulum Merdeka. Surata menambahkan tidak ada pelatihan berjenjang dalam penerapannya. “Guru disiapkan platform, untuk berdiskusi antarguru, artinya untuk mengerakan kumunitas belajar di sekolah, Ketika komunitas belajar itu tumbuh maka ekosistem akan tumbuh di sekolah,” jelasnya. (Wirnaya/balipost)

BAGIKAN