Djoko Subinarto. (BP/Istimewa)

Oleh Djoko Subinarto

Sampah dan polusi telah menjadi bagian gelap dari industri pariwisata di manapun. Para pelaku industri wisata maupun para wisatawan seyogianya menggalang upaya secara bersamaan guna mewujudkan pariwisata yang berkelanjutan dengan meminimalisir produksi sampah dan polusi. Seperti sama-sama kita ketahui, kendati memberi manfaat yang tidak kecil bagi perekonomian, sektor pariwisata juga membawa sejumlah implikasi negatif bagi kelestarian lingkungan.

Dua di antaranya yaitu produksi sampah dan polusi. Semakin populer sebuah destinasi wisata dan semakin banyak dikunjungi para wisatawan, umumnya semakin banyak produksi sampah dihasilkan dan juga semakin polutif.

Dirata-rata dalam sehari, seorang wisatawan memproduksi sekitar 1,67 kilogram sampah (Obersteiner et al, 2021). Menurut United Nations Environment Programme (UNEP), para wisatawan menghasilkan setidaknya 4,8 juta ton sampah padat per tahun. Jika tidak ditangani dengan baik, problem sampah ini tentu saja bakal merugikan bagi sektor pariwisata sendiri. Salah satunya yakni akan membawa citra buruk bagi destinasi wisata, yang akan berimbas kemudian pada enggannya para wisatawan untuk datang berkunjung.

Dari aspek medis, sampah dapat menjadi sumber penyebaran dan penularan sejumlah penyakit yang pada gilirannya dapat memicu wabah. Sementara itu, sampah juga merusak ekosistem tertentu. Misalnya, sampah telah terbukti merusak terumbu karang. Terkait soal polusi, aktivitas wisata berimbas pada peningkatan polusi, seperti polusi udara, polusi suara, maupun polusi cahaya, dengan beragam implikasinya, dari yang paling ringan hingga ke yang paling berat. Para pelaku industri wisata sudah seyogianya secara aktif mengambil langkah-langkah konkret untuk ikut menanggulangi masalah sampah  ini. Selain selalu menyediakan fasilitas tong sampah, baik untuk sampah organik dan anorganik, memiliki sistem pengelolaan limbah dan sistem pembuangan limbah yang baik, para pengelola tempat-tempat wisata dapat juga membuat berbagai kebijakan untuk meminimalisir produksi sampah dari aktivitas para wisatawan.

Baca juga:  Menyoal Indeks Kebahagiaan

Contohnya, mereka dapat memberlakukan aturan agar para wisatawan tidak diperkenankan membawa plastik sekali pakai. Kebijakan lain, misalnya, dengan menyediakan air cuma-cuma di berbagai lokasi wisata sehingga wisatawan tak perlu membawa air kemasan. Sektor hotel dan restoran yang notabene menjadi bagian erat industri pariwisata dapat pula turut aktif berperan. Misalnya saja dengan menyediakan sajian makanan/hidangan dengan kemasan-kemasan yang lebih ramah lingkungan, seperti menggunakan daun pisang, daun jati, daun hanjuang, dan sejenisnya.

Begitu juga untuk pengurangan pengurangan tingkat polusi. Dalam soal polusi udara, umpamanya, pengelola tempat wisata dapat memberi insentif untuk para wisatawan yang datang ke lokasi wisata dengan menggunakan kendaraan umum, jalan kaki atau juga naik sepeda. Insentif dapat berupa potongan biaya masuk lokasi wisata, pemberian paket wisata khusus, voucher belanja, dan sebagainya. Asosiasi-asosiasi di industri pariwisata, media, maupun lembaga pemerintahan, dapat bekerjasama untuk ikut mendorong pengurangan sampah dan polusi ini. Salah satunya dengan membuat event pemberian penghargaan kepada para pelaku industri pariwisata yang berhasil mewujudkan praktik wisata minim sampah dan minim polusi.

Baca juga:  Menjawab Tantangan ‘’Kampus Merdeka’’

Tentu saja, dari pihak wisatawan sendiri diharapkan pula peransertanya secara aktif. Bagaimanapun, para wisatawan berperan besar dalam ikut memproduksi sampah dan polusi ketika melakukan aktivitas wisata selama ini. Banyak yang bisa dilakukan para wisatawan untuk ikut mengurangi produksi dan polusi dalam kaitannya dengan aktivitas wisata mereka. Di antaranya saja sebagai berikut.

Pertama, selalu membawa kantong yang dapat dipakai berkali-kali untuk menggantikan kantong plastik sekali pakai saat berwisata. Kedua,  ketika berwisata dan harus membeli sesuatu, usahakan untuk menghindari produk-produk yang menggunakan kemasan plastik. Di saat yang sama, upayakan untuk membeli barang-barang yang menggunakan  bahan daur ulang. Ketiga, di lokasi wisata, jika membeli buah atau sayuran, belilah buah maupun sayuran lokal ketimbang buah atau sayuran impor.

Keempat, menggunakan transportasi publik, berjalan kaki atau bersepeda ketika menuju destinasi wisata. Selain itu, prioritaskan untuk melakukan aktivitas wisata di tempat-tempat wisata yang lokasinya lebih dekat dengan tempat tinggal. Kelima, bijak dalam menggunakan air dan listrik. Hanya karena Anda sudah membayar hotel atau penginapan tak berarti Anda dapat memboroskan penggunaan air maupun listrik. Maka, gunakan air maupun listrik secukupnya. Keenam, jika harus menginap, menginaplah di tempat penginapan yang jaraknya ke lokasi wisata tak terlalu jauh. Dengan begitu, Anda dapat menuju lokasi dengan cukup berjalan kaki.

Baca juga:  Peradaban Bali Era Baru

Peningkatan Kesadaran

Sampah dan polusi telah menjadi persoalan besar kita semua saat ini. Sektor pariwisata ikut berkontribusi terhadap produksi sampah dan polusi sejauh ini. Namun, sektor ini dapat pula ikut berperan dalam ikut mengurangi sampah dan polusi. Peningkatan kesadaran lingkungan di kalangan para pelaku industri pariwisata dan para wisatawan perlu terus dibangun. Kampanye mengenai praktik-praktik wisata yang ramah lingkungan perlu pula digelorakan.

Insentif yang menarik wajib disediakan bagi para pelaku bisnis pariwisata yang berhasil meminimalisir produksi sampah dan polusi di destinasi wisata yang mereka kelola. Begitu pula untuk para wisatawan yang secara aktif telah ikut berperan dalam ikut mengurangi produksi sampah dan polusi, insentif, seperti dipaparkan di muka, perlu diberikan untuk mereka. Akhirnya, kita berharap akan  semakin banyak destinasi wisata di sekitar kita yang minim produksi sampah dan minim polusi, sehingga menopang secara signifikan terhadap industri pariwisata yang berkelanjutan.

Penulis, Kolumnis dan Bloger

BAGIKAN