Arsip - Seorang pekerja merawat tanaman ganja di pertanian Rak Jang, salah satu pertanian pertama yang diberi izin oleh pemerintah Thailand untuk menanam ganja dan menjual produknya ke fasilitas medis, di Nakhon Ratchasima, Thailand, 28 Maret 2021. (BP/Ant)

WINA, BALIPOST.com – Ganja telah lama dikenal sebagai narkoba yang paling banyak digunakan di dunia dan penggunaannya terus meningkat. Demikian kata Kantor PBB Urusan Narkoba dan Kejahatan (UNODC) dalam laporan tahunannya, seperti dikutip dari kantor berita Antara, Senin (27/6).

Dalam laporan PBB, konsumsi ganja meningkat di negara-negara yang telah melegalkannya dan selama pembatasan COVID-19, sehingga memperbesar risiko depresi dan bunuh diri. Kandungan tetrahidrokanabinol (THC) dalam ganja juga semakin tinggi, tulis Laporan Narkoba Dunia itu.

Pemakaian ganja non-medis telah dilegalkan di beberapa negara bagian Amerika Serikat, seperti Washington dan Colorado sejak 2012. Uruguay melegalkannya pada 2013, Kanada pada 2018.

Baca juga:  Wonderful Indonesia Goda Pasar Dubai dan Abu Dhabi, 18-19 Oktober 2017

Negara-negara lain telah mengikuti langkah serupa, tetapi laporan itu hanya difokuskan pada penggunaan ganja di tiga negara tersebut. “Legalisasi ganja tampaknya telah mempercepat tren kenaikan dalam penggunaan narkoba itu, yang dilaporkan setiap hari,” kata UNODC dalam laporannya.

Meski prevalensi pemakaian ganja di kalangan remaja “tidak berubah banyak”, ada “peningkatan nyata dalam laporan penggunaan produk berpotensi tinggi itu di kalangan dewasa muda”, kata kantor PBB yang bermarkas di Wina itu. “Proporsi orang dengan gangguan jiwa dan kasus bunuh diri yang dikaitkan dengan penggunaan ganja telah meningkat,” tulisnya.

Baca juga:  Apel Peringatan Dasawarsa Mangupura, Indeks Kebahagiaan Masyarakat Badung Meningkat

Laporan itu mengatakan, sekitar 284 juta orang, atau 5,6 persen dari penduduk dunia, telah menggunakan narkoba, seperti heroin, kokaina, amfetamin atau ekstasi pada 2020, data terakhir yang tersedia.

Dari 284 juta orang itu, 209 juta di antaranya mengonsumsi ganja. “Masa penguncian selama pandemi COVID-19 mendorong peningkatan pemakaian ganja pada 2020,” kata laporan tersebut.

Produksi kokaina mencapai rekor pada tahun itu dan penyelundupan lewat laut terus meningkat. Data penyitaan pada 2021 menunjukkan perluasan pasar kokaina dari Amerika Utara dan Eropa –dua pasar utama– ke Afrika dan Asia.

Baca juga:  Jaringan Pengedar Ganja Asal Aceh Gunakan Bubuk Kunyit Untuk Mengelabui Petugas

Menurut laporan itu, opioid tetap menjadi obat-obatan paling berbahaya. Fentanil, misalnya, menyebabkan angka kematian akibat overdosis di AS meningkat. Kematian akibat overdosis fentanil di negara itu pada 2021 diperkirakan mencapai rekor 107.622 kasus. (Kmb/Balipost)

 

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *