Prof. IB Raka Suardana. (BP/Dokumen)

DENPASAR, BALIPOST.com – Ekonomi Bali pascakebijakan tanpa karantina dan pemberlakuan Visa on Arrival (VoA) akan pulih lebih cepat dari prediksi BI. Namun, pemulihan belum akan mengembalikan ekonomi normal seperti sebelum pandemi.

Dengan diterapkannya kebijakan uji coba tanpa karantina bagi pelaku perjalanan luar negeri (PPLN) yang memasuki Bali mulai 7 Maret, dan sudah beroperasinya penerbangan jalur internasional, praktis dapat membawa multiplier effect (efek pengganda) positif bagi ekonomi Bali. “Karena itu berarti dunia pariwisata dan aviasi tanda-tandanya sudah mulai hidup,” ujar pengamat ekonomi FEB Undiknas Denpasar, Prof. Dr. IB Raka Suardana, S.E., M.M., Senin (7/3).

Baca juga:  5,8 Triliun Disiapkan Untuk Nyepi

Sebab, selama ini PDRB Bali didominasi oleh sektor tersier (sektor jasa, khususnya jasa pariwisata) sekitar 68,68 persen. Meskipun saat ini pemerintah Bali sudah membuat perencanaan yang matang dalam mentransformasikan ekonomi Bali di luar sektor pariwisata, tapi proses untuk shifting (bergeser) itu memerlukan waktu, tidak bisa serta merta dalam kurun waktu cepat 1 atau 2 tahun.

Bank Indonesia memprediksikan pulihnya perekonomian Bali paling cepat pada tahun 2024. “Namun jika kondisinya terus kondusif dan membaik seusai uji coba bebas karantina, serta pandemi dapat dimanajemeni dengan baik, dimana syarat perjalanan (mobilitas) yang tidak begitu ketat, maka tidak mustahil perbaikan pertumbuhan ekonomi Bali bisa pulih lebih cepat, meski tidak seperti sebelum adanya pandemi,” ujar Prof. Raka yang juga Regional Chief Economist (RCE) Bank BNI Wilayah 8 Bali-Nusra ini.

Baca juga:  Bersatu Padu Mengatasi Depresi Ekonomi Bali

Ia menambahkan syarat agar hal itu bisa terwujud adalah masyarakat Bali harus tetap disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan (prokes), jangan abai dan jangan mengganggap remeh. “Demikian juga stakeholder yang lain, berkewajiban menjaga kondusifitas agar para wisatawan yang berkunjung merasa aman dan nyaman, serta tidak takut dalam menjalankan aktivitas wisatanya selama berada di Pulau Bali,” ujar Prof. Raka.

Di samping itu, gejolak perang di Eropa antara Rusia dengan Ukraina, bisa jadi pertanda baik bagi industri pariwisata di Asia Tenggara yang letaknya jauh, termasuk Indonesia, asal perangnya tidak merambah ke mana-mana. “Kita tahu bahwa para pelancong yang selama 2 tahun tak bisa ke mana-mana, umumnya memiliki hasrat untuk berkelana akibat terkekang selama ini. Itulah yang harus dimanfaatkan secara baik oleh para pelaku industri pariwisata,” ujar Dekan FEB Undiknas Denpasar ini. (Citta Maya/balipost)

Baca juga:  Dibandingkan Periode Triwulan 2018, Ekonomi Bali Tumbuh Negatif
BAGIKAN