Polisi Perbatasan memeriksa Sertifikat Vaksin dari pelaku perjalanan yang ingin melintas masuk ke wilayah Amerika Serikat dari di jembatan perbatasan internasional Paso del Norte, Ciudad Juarez, Meksiko, Senin (8/11/2021). Amerika Serikat mengizinkan masuk warga negara asing dari 26 negara yang sudah divaksinasi COVID-19 secara penuh via jalur udara maupun darat mulai 8 November 2021. (BP/Ant)

BENGALURU, BALIPOST.com – Setelah sekitar dua bulan jumlah infeksi virus corona menurun, AS kembali mengalami peningkatan harian dalam dua pekan belakangan ini akibat Delta, varian yang mudah menyebar. Hingga Minggu (12/12), AS sudah mencatatkan 50 juta kasus COVID-19. Dikutip dari kantor berita Antara, Senin (13/12), sementara varian Delta terus mengancam penduduk Amerika dan varian Omicron sedang menyebar.

Negara-negara bagian AS di kawasan yang suhunya lebih dingin, termasuk Vermont, New Hampshire, dan Michigan, sedang mengalami lonjakan infeksi COVID-19 per kapita. Jumlah pasien COVID yang dirawat di rumah sakit juga meningkat, yaitu naik 20 persen sejak liburan Thanksgiving pada akhir November.

Baca juga:  Libur Sekolah, Vaksinasi Anak 6-11 Tahun Tetap Jalan

Selama November, angka kematian naik sebesar 4,6 persen. Jumlah total orang yang meninggal akibat penyakit itu sudah melebihi 800.000 jiwa. Hampir setengah dari negara-negara bagian AS telah mencatat kemunculan kasus varian Omicron namun varian Delta masih menjadi penyebab 99 persen kasus COVID-19, kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS (CDC) Dr. Rochelle Walensky.

Menurut analisis Reuters, 25 juta pertama kasus COVID bermunculan dalam kurun satu tahun. Sementara itu, 25 juta kasus berikutnya, sehingga total mencapai 50 juta kasus, muncul kurang dari satu tahun, yaitu hanya 323 hari.

Baca juga:  Pandemi COVID-19 Memburuk, Ibu Kota Brazil Ditutup 24 Jam

Hasil-hasil penelitian laboratorium yang diterbitkan pekan ini menunjukkan bahwa varian Omicron akan menumpulkan kemanjuran dua dosis vaksin Pfizer dan BioNTech dalam mencegah infeksi COVID-19. Namun menurut penelitian itu, dosis ketiga kemungkinan bisa mengembalikan daya pelindungan tersebut.

Sekitar 14 persen warga di Amerika Serikat saat ini sudah disuntik vaksin penguat (booster). Pfizer Inc dan Merck telah mengembangkan obat antiviral COVID-19 yang berfungsi terhadap semua varian. Banyak negara bergegas membeli jenis pil itu.

Baca juga:  Peringatan Hari Jadi ke-70 Koopsau di Lanud Ngurah Rai

Menteri Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS Xavier Becerra mengatakan vaksinasi harus menjadi prioritas bagi warga Amerika namun bahwa pil tersebut bisa membantu orang agar tidak perlu dirawat di rumah sakit merupakan aspek yang akan menyelamatkan nyawa. (kmb/balipost)

BAGIKAN