Wabup Kasta saat turun ke Desa Bakas. (BP/Ist)

SEMARAPURA, BALIPOST.com – Pelayanan PDAM Panca Mahottama masih kerap dikeluhkan di sejumlah desa. Sebab, distribusi air kepada pelanggan masih tidak lancar.

Bahkan, Bupati Klungkung Nyoman Suwirta maupun Wakil Bupati Klungkung Made Kasta harus bergantian turun tangan ke desa-desa guna mendorong penyelesaian masalah ini agar lebih cepat. Sehingga tidak semakin mengundang protes masyarakat.

Seperti warga Desa Bakas, Kecamatan Banjarangkan, belakangan ini sulit mendapatkan air bersih. Warga sekitar mengaku aliran air sangat kecil dan kadang-kadang mati.

Mengatasi masalah tersebut, Wakil Bupati Klungkung I Made Kasta bersama Perbekel Desa Bakas I Wayan Murdana meninjau saluran titik pipa di Dusun Kawan, Desa Bakas, Kecamatan Banjarangkan, Kamis (18/11). Dalam pantauannya Wabup Kasta menemukan penyebab utamanya adalah ketidakseimbangan antara debit air yang diangkat dari sumbernya untuk kebutuhan seluruh masyarakat.

Baca juga:  Rangkaian HUT ke-20, Bali TV Gelar Donor Darah dan Bagi Sembako

Pihaknya langsung berkoordinasi bersama petugas PDAM Panca Mahotama Klungkung untuk sementara membagi sama rata pembagian debit air untuk ke wilayah Dusun Kawan dengan sistem buka tutup.

Sehingga dengan pola bergilir pelanggan mendapat air secara merata. “Setelah dilakukan pembagian debit air, sekarang air sudah mengalir merata. Semoga dengan ini tidak lagi ada keluahan air. Apalagi kalau mati di saat hari raya. Ini akan menimbulkan protes lagi,” kata Wabup Kasta.

Baca juga:  BPR Lestari Bali Berbagi Kisah di Panti Asuhan Ebenhaezer

Ia meminta Perbekel Desa Bakas I Wayan Murdana untuk terus memantau distribusi air bersih kepada warganya.

Sebelumnya, warga Desa Kamasan, Kecamatan Klungkung juga sempat sulit mendapatkan air bersih belum lama ini. Warga sekitar mengaku mendapatkan air bersih pada tengah malam. Mengatasi masalah tersebut, Bupati Suwirta bersama Direktur PDAM Klungkung, I Nyoman Renin Suyasa dan jajaranya langsung mengurai permasalahan tersebut.

Dalam pantauannya Bupati Suwirta melihat, penyebab utamanya hampir sama adalah ketidakseimbangan antara debit air yang diangkat dari sumbernya untuk kebutuhan masyarakat. “Buka tutup palep hanya untuk membagi air yang sifatnya sementara. Pipa normalisasi sumber air rendang adalah solusi. Tapi sayang pekerjaannya agak mundur setelah sempat koordinasi dengan pihak BWS,” ujar Bupati Suwirta.

Baca juga:  Telantar di Kos-kosan Sejak Pandemi, Wanita Bandung Dipulangkan

Lebih lanjut pihaknya memberikan solusi kolaborasi adalah pemanfataan maksimal air dari sumur bor termasuk sumber-sumber mata air yang ada seperti di Bajing dan lainnya. “Saya tugaskan PDAM untuk mencoba buka tutup secara bergilir agar pelanggan dapat air secara merata walaupun bergilir sembari menunggu uji coba saluran dengan perpompaan dari mata air Rendang,” tegasnya. (Adv/balipost)

BAGIKAN