BABI - Seorang warga membersihkan kandang ternak babinya di Denpasar. Upaya Pemkot Denpasr untuk menyalurkan bibit babi pada para peternaknya mengalami kendala. (BP/eka adhiyasa)

BANGLI, BALIPOST.com – Populasi babi di masa pandemi covid-19 mengalami peningkatan. Itu terjadi lantaran banyak masyarakat yang beralih pekerjaan dan memilih usaha memelihara babi.

“Mata pencaharian selama (pandemi) corona yang sangat kelihatan memberi profit itu babi. Sehingga hampir semua elemen masyarakat ikut pelihara babi. Lumayan besar perputaran uang di babi,” ungkap Ketua Gabungan Pengusaha Peternakan Babi Indonesia (Gupbi) Bangli Sang Putu Adil, Jumat (5/11).

Baca juga:  Menggeliatkan Kerajinan Tenun Yang Sempat Vakum Ditengah Pandemi Covid-19

Meningkatnya populasi babi mempengaruhi harga. Jelang hari raya Galungan, harga babi di tingkat peternak saat ini berada di kisaran harga Rp 39-40 ribu per kilogram. Jika dibandingkan hari raya Galungan sebelumnya, harga tersebut mengalami penurunan. “Kalau sebelumnya Rp 50-52 ribu per kilogram,” katanya.

Dengan harga babi sekarang di kisaran Rp 39-40 ribu, Sang Putu Adil mengatakan peternak hanya dapat untung tipis. Sebab harga pakan babi terus naik. “Bahan baku pakannya naik terus. Sama seperti bahan baku pakan ayam. Jadi untungnya tipis, pak pok,” ujarnya.

Baca juga:  Kasus Pemasangan Spanduk Penutupan di DTW Ulun Danu Beratan Dibawa ke Jalur Hukum

Sementara itu disinggung mengenai kasus kematian babi, dikatakan, masih terjadi. Namun bisa dikendalikan oleh peternak. Kasus kematian babi tidak terjadi sporadic seperti tahun sebelumnya. Untuk meminimalisir adanya penyakit yang menjangkiti ternak babinya, ia mengaku terus melakukan bio security secara ketat. (Dayu Swasrina/balipost)

BAGIKAN