Suasana di Pantai Kuta, Jumat (13/8). (BP/Istimewa)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Kondisi air laut pasang yang terjadi sejak Kamis (12/8), masih terlihat Jumat (13/8). Air meluber hingga ke tepi pantai.

Prakirawan Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar, Brian Eko Permadi menjelaskan, berdasarkan data pemodelan, tinggi gelombang di wilayah Kuta dan sekitarnya saat ini berkisar antara 1 hingga 3,5 meter. Gelombang ini dikategorikan tinggi. Sementara untuk wilayah lainnya seperti di Gianyar berkisar antara 1 – 2,5 meter atau dikategorikan sedang.

Terkait penyebab gelombang tinggi ini, Brian Eko melanjutkan karena pengaruh swell yang menjalar dari perairan barat Australia. “Hal ini dikarenakan adanya tekanan tinggi di perairan barat Australia,” bebernya.

Baca juga:  Tanaman Kakao Diserang Hama, Harga Anjlok Petani Menjerit

Gelombang tinggi yang disertai angin kencang ini menyebabkan dorongan air laut ke bibir pantai semakin besar. Sehingga, air laut bisa meluber dari batas biasanya.

Londisi ini, diperkirakan masih terjadi hingga 3 hari ke depan. Dia juga mengimbau agar masyarakat diharapkan tetap waspada terhadap potensi hujan yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang berdurasi singkat di Bali bagian Barat,Tengah, Timur dan Selatan serta tinggi gelombang laut yang dapat mencapai 2 meter atau lebih di Laut Bali, Perairan selatan Bali, Selat Bali, Selat Badung, Selat Lombok dan Samudera Hindia selatan Bali.

Baca juga:  Ganti Direktur, Walhi Bali Tetap Komit Menangkan Teluk Benoa

Salah seorang personel Satgas Pantai Kuta, I Made Oka, menerangkan sebelum terjadinya luberan air laut, terjadi gelombang tinggi di tengah laut atau berjarak sekitar 100 meter dari lepas pantai Kuta. Gelombang yang diperkirakan mencapai 3 meter itu pecah dan memicu dorongan ke bibir pantai.

“Kalau di Bali biasa disebutkan gelombang karang tengah. Jadi, gelombang itu terjadi di tengah laut. Kemudian, bertemu dengan gelombang dari bibir pantai yang menyebabkan air laut kembali ke bibir pantai. Nah, saat itu lah dorongan semakin keras ke bibir pantai dan meluber,” katanya.

Menurut Made Oka, gelombang karang tengah bisa teramati dari bibir pantai Kuta. Nah, kalau sudah terlihat, pihaknya mewanti-wanti para pengunjung untuk menjauh dari pantai, karena dipastikan air laut naik atau bahkan hingga meluber.

Baca juga:  Sidak, DLH Badung Temukan Dua Perusahaan Ini Pengolahan Limbahnya Belum Sesuai Prosedur

Saat air laut naik, kondisi pantai Kuta memang dalam keadaan sepi pengunjung. Sehingga tidak menimbulkan kejadian yang tidak diinginkan.

Hal ini juga karena situasi pandemi dan larangan bagi wisatawan ke obyek wisata pantai. “Saat air laut naik, kita selalu standby dan mengarahkan masyarakat, utamanya yang melintas di jalan Pantai Kuta itu. Begitu juga masyarakat yang sedang berolahraga diberikan imbauan,” ucapnya. (Yudi Karnaedi/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *