Menteri Komunikasi dan Informatika, Johnny G. Plate. (BP/Antara)

JAKARTA, BALIPOST.com – Penghentian siaran televisi teresterial analog, atau analog switch off/ASO, dilakukan penjadwalan ulang menjadi tiga tahap dan baru mulai dilakukan tahun depan. “Sedang disiapkan revisi aturan untuk ASO dalam tiga tahap,” kata Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate, saat webinar bersama Astra dan Persatuan Wartawan Indonesia, dikutip dari Kantor Berita Antara, Kamis (12/8).

Analog switch off sudah tertuang dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja, bahwa penghentian siaran televisi teresterial analog dan beralih ke digital paling lambat dua tahun setelah regulasi berlaku.

Baca juga:  Pembekuan IMB Eks Sari Club Bisa Dilakukan Jika Ada Pelanggaran

Berdasarkan undang-undang tersebut, Indonesia memiliki waktu sampai 2 November 2022 untuk melakukan analog switch off. Rencana awal ASO juga dituangkan dalam Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 6 Tahun 2021, bahwa siaran analog akan dihentikan dalam lima tahap.

Tahap pertama, untuk wilayah siaran Aceh 1, Kepulauan Riau 1, Banten 1, Kalimantan Timur 1, Kalimantan Utara 1 dan Kalimantan Utara 3, semula dijadwalkan paling lambat berlangsung hingga 17 Agustus nanti. “Tapi, karena pandemi, muncul varian baru dan Indonesia memberlakukan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), kita jadwal kembali,” kata Johnny.

Baca juga:  Hari “Mabasa” Bali di Denpasar Bertambah, Ini Jadwalnya

ASO di Indonesia akan ditunda hingga tahun depan. “Agar kesempatan lebih luas sedikit, sambil kita mengharapkan COVID-19 tahun ini lebih terkendali sehingga tahun depan kita bisa ASO,” kata Johnny.

Sang menteri mengatakan akan mengumumkan secara resmi mengenai perubahan jadwal analog switch off ini. Dalam pertemuan terpisah sebelumnya, Johnny menyampaikan analog switch off tahap I berlangsung pada 31 April 2022.

Baca juga:  Kemenhub Tangkal Powerbank Masuk Kabin Pesawat

Analog switch off tidak bisa dihindari, selain sudah tertuang di dalam undang-undang, siaran televisi teresterial harus dilakukan karena memberikan lebih banyak manfaat bagi masyarakat, yaitu kualitas siaran lebih stabil.

Di sisi lain, menurut Johnny, Indonesia harus menggunakan teknologi dan tata kelola yang tepat agar siaran digital bisa mendukung perkembangan industri penyiaran. (kmb/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *