Kepala Dinas Pertanian Buleleng, Gede Melandrat. (BP/Yud)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Kasus rabies di Kabupaten Buleleng kembali menunjukkan tren peningkatan. Hingga Desember 2025, tercatat 4.087 kasus gigitan anjing terjadi di sembilan kecamatan. Dari data itu, 111 sampel dipastikan positif rabies.

Kepala Dinas Pertanian Buleleng, Gede Melandrat, Jumat (12/12), mengatakan, temuan ini menegaskan bahwa penyebaran rabies di Buleleng masih mengkhawatirkan. Hal ini diakibatkan mobilitas tinggi anjing peliharaan maupun anjing liar. Melandrat menambahkan, sejumlah kejadian tahun ini memperlihatkan pola gigitan yang lebih agresif.

Baca juga:  Buleleng Uji Coba Vaksin Hexavalen, 100 Balita Disasar dalam Program Perdana

“Begitu ada gigitan langsung kita arahkan untuk vaksinasi. Kita juga terus menjalin kolaborasi dengan Dinas Kesehatan untuk penanganannya,” jelas Melandrat.

Menurutnya, beberapa sampel positif rabies berasal dari anjing ras, yang menurutnya memiliki sensitivitas lebih tinggi terhadap infeksi. Salah satu kasus yang masih diingat warga adalah insiden ketika seekor anjing menyerang delapan orang, termasuk beberapa pelajar yang sedang menuju sekolah.

“Banyak kasus justru dipicu anjing-anjing peliharaan yang dilepas bebas tanpa pengawasan,” tegasnya.

Baca juga:  Buka Aktivitas Perekonomian, NSW Keluarkan Buku Panduan

Untuk menekan penyebaran, pemerintah daerah memperketat program vaksinasi, baik vaksinasi rutin bagi anjing peliharaan maupun vaksinasi massal di wilayah yang muncul kasus baru. Di Dadap Putih, tim lapangan sudah diturunkan untuk melakukan vaksinasi cepat serta penelusuran kontak satwa yang mungkin terpapar.

“Pemerintah berharap langkah cepat dan vaksinasi terarah mampu menekan laju penularan rabies menjelang akhir tahun ini,” tandasnya. (Yudha/balipost)

 

Baca juga:  Cari Jalur Alternatif, Dishub Buleleng Imbau Para Sopir Tak Andalkan Google Maps
BAGIKAN