Perajin tahu dan tempe saat mengolah kedelai di tempat usahanya. (BP/Gik)

SEMARAPURA, BALIPOST.com – Ditengah perekonomian yang belum pulih akibat pandemi COVID-19, harga kedelai masih belum stabil. Sejak Januari, harga kedelai terus naik sampai awal Juni ini. Melonjaknya harga kedelai membuat usaha pembuatan tahu dan tempe semakin tertekan. Agar tidak semakin rugi, para pengrajin tempe dan tahu terpaksa memperkecil ukuran cetakannya yang dijual kepada pedagang di pasar.

Lonjakan harga drastis dari Januari hingga awal Juni ini, naik dari kisaran Rp 7 ribu menjadi Rp 10.700/ kg. Lonjakan harga kedelai sebagai bahan baku utama pembuatan tempe dan tahu membuat para perajin semakin kesulitan. Bagi perajin tempe skala besar dengan produksi hingga satu ton/hari, harga kedelai jenis impor sudah dikisaran Rp 10.700/kg. Situasi demikian diakui salah satu perajin tempe tahu di Desa Sulang, Klungkung, Nengah Ariawan, Rabu (2/6).

Baca juga:  Ini Yang Dibahas PSSI Badung Pra Kongres

Ia mengaku jika biasanya untuk produksi tempe dan tahu bisa habis 1 ton kedelai, saat ini paling maksimal hanya 600 kg saja dibagi dua untuk tempe dan tahu. Ia terpaksa mengurangi jumlah produksi karena, karena harga kedelai yang terus melambung. Untuk ukurannya pun terpaksa diperkecil, agar harga jual bisa sama di pasaran. Kecuali tahu saja yang dinaikkan seribu rupiah per cetaknya. “Kami ingin harga kedele bisa distabilkan, jangan sampai tiap bulan naik. Saya sudah bingung,” katanya.

Baca juga:  Rekor Baru!!! Tambahan Positif COVID-19 Bali Lampaui 45 Kasus

Dampak harga kedelai naik, ukuran tempe dan tahu diperkecil. Bahkan, harga tahu naik. Situasi demikian juga mulai dikeluhkan pelanggan. Ini membuat permintaan juga sedikit menurun. Salah satu penjual tempe tahu di Pasar Umum Galiran Klungkung / Wayan Sriasih, menyampaikan karena ukurannya kecil, pelanggan malah meminta harga lebih murah. Sedangkan dari pemasok harganya masih tetap seperti sebelumnya. “Ukuran tempe dan tahu memang lebih kecil sekarang. Semoga harga kedelainya bisa stabil lagi,” katanya.

Baca juga:  Pasien COVID-19 Meninggal Dunia Bertambah, Termuda Usia Belasan Tahun

Meski ukurannya diperkecil dan harganya naik, menurutnya permintaan dari konsumen tetap stabil. Ini juga dipengaruhi karena harga daging ayam masih tergolong mahal, kisaran Rp 42 ribu/kg. (Bagiarta/Balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

Captcha *