Anggota Polres Bangli menelusuri lokasi pembuatan video porno yang diduga di Gunung Batur. (BP/Istimewa)

BANGLI, BALIPOST.com – Potongan video porno yang diperankan warga negara asing (WNA) beredar di masyarakat, Rabu (21/4). Potongan video itu membuat heboh lantaran diduga syutingnya di areal Gunung Batur, Kintamani.

Menyikapi hal itu, Polres Bangli langsung menerjunkan anggotanya ke Gunung Batur untuk menelusuri lokasi yang identik dengan yang ada di video tersebut. “Anggota sudah langsung naik (ke Gunung Batur) tadi untuk mencari tahu lokasinya identik atau tidak dengan yang di video. Hasilnya anggota sudah menemukan titik lokasinya,” ungkap Kapolres Bangli AKBP I Gusti Agung Dhana Aryawan, Rabu (21/4).

Baca juga:  Peringati Hut Infanteri di Masa Pandemi, Rindam XI/Udayana Lakukan Ini

Selain menelusuri lokasi, Polres Bangli juga menelusuri postingan video tersebut melalui tim cyber. Diketahui video porno itu sudah diposting setahun lalu.

Hanya saja baru beredar di sekarang. Tindak lanjut dari itu, Agung Dhana mengaku akan berkoordinasi dengan pihak imigrasi untuk mengecek apakah WNA pemeran video porno itu masih berada di Indonesia atau tidak

Karena video porno itu sudah diposting setahun lalu, menurutnya ada kemungkinan video itu sudah dibuat sebelum 2020. “Kalau yang bersangkutan masih ada di Indonesia, ya akan kami cari untuk dimintai keterangan. Apa motifasi dan sebagainya. Sampai kita bisa menerapkan apakah bisa masuk unsur hukum atau tidak,” pungkasnya.

Baca juga:  Tangani Kasus, Anggota Polres Kini Dibekali Pakaian APD

Terpisah, Kasi Konservasi Wilayah II BKSDA Bali Sulisto Widodo mengaku belum mengetahui informasi soal beredarnya potongan video porno yang diduga syutingnya di Gunung Batur. Dia mengatakan sejak pandemi covid-19 muncul di Bali 2020 lalu, Gunung Batur sampai saat ini masih ditutup untuk aktifitas pendakian.

Selama Gunung Batur ditutup, pihaknya rutin menurunkan beberapa petugasnya untuk melakukan penjagaan dan patroli. Pihaknya tidak memungkiri jika selama Gunung Batur ditutup untuk aktifitas pendakian, ada saja yang sembunyi-sembunyi mendaki. “Kalau ada satu dua lolos yang namanya tempatnya terbuka begitu, tidak ada pagarnya, mau masuk dari arah mana saja bisa. Jadi kita agak kesulitan,” ujarnya. (Dayu Swasrina/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.