Gde Harta Wijaya. (BP/Istimewa)

Oleh Gde Harta Wijaya

Pandemi Covid-19 yang tengah melanda dunia sejak akhir 2019 sampai dengan saat ini telah memberikan pukulan teramat keras untuk sektor ekonomi yang berhubungan dengan jasa-jasa. Pariwisata yang sektor usahanya tersebar dalam kategori jasa-jasa mengalami dampak yang luar biasa. Untuk tetap bertahan dalam himpitan kondisi saat ini, banyak di antara mereka yang beralih ke sektor-sektor usaha lain, salah satunya adalah sektor pertanian.

Secara nasional, menurut data ketenagakerjaan Agustus 2020, sektor pertanian mengalami peningkatan penyerapan penduduk bekerja mencapai 2,23 persen poin dibanding tahun sebelumnya. Hal ini sejalan dengan peningkatan nilai tambah yang dihasilkan sebesar 1,75 persen. Di Bali sendiri juga tercatat peningkatan proporsi penyerapan penduduk bekerja pada Agustus 2020 di sektor pertanian sebesar 3,76 persen poin dibanding kondisi Agustus 2019. Namun peningkatan proporsi penyerapan tenaga kerja ini tidak diikuti dengan peningkatan nilai tambah yang dihasilkan. Sektor pertanian tercatat mengalami pertumbuhan negatif sebesar -1,06 persen. Ada apa dengan pertanian di Bali?

Baca juga:  Dua Tahun Pandemi COVID-19, Tiga Gelombang Varian Corona Dilalui Indonesia

Pada tahun 2020, saat dampak pandemi Covid-19 telah terasa, lapangan usaha pertanian di Bali memang mengalami peningkatan kontribusi terhadap perekonomian. Kontribusi lapangan usaha pertanian di tahun tersebut pada ekonomi Bali tercatat sebesar 15,09 persen, meningkat dibanding kontribusi pada tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 13,45 persen. Namun peningkatan ini tidak diikuti pertumbuhan nilai tambah yang dihasilkan. Lapangan usaha pertanian tercatat tumbuh negatif sebesar -1,06 persen dibanding tahun sebelumnya.

Jika bercermin pada kondisi tahun 2019 di saat dampak pandemi Covid-19 belum dirasakan, kita dapat membandingkan peranan lapangan usaha pertanian dengan lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum secara lebih proporsional. Lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum yang mencakup di antaranya jenis usaha hotel dan restoran yang dianggap sebagai representasi dari sektor pariwisata di Bali.

Kondisi ini setidaknya menunjukan gambaran bahwa porsi kue ekonomi dari lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum, lebih besar terhadap perekonomian Bali, namun dinikmati oleh lebih sedikit penduduk bekerja jika dibandingkan dengan proporsi penduduk bekerja yang menikmati nilai tambah di lapangan usaha pertanian.

Baca juga:  Seribuan Guide Gianyar Terdampak Pandemi, Banting Setir Jadi Petani hingga Jualan Online

Ketika kondisi di tahun 2020 lapangan usaha pertanian tercatat mengalami pertumbuhan negatif, namun penyerapan penduduk bekerjanya meningkat, patut diduga ada isu-isu terkait penurunan kesejahteraan pada lapangan usaha ini.

Kondisi terkait lapangan usaha pertanian di Bali seperti yang diceritakan sebelumnya juga dapat dilihat dari nilai tukar petani (NTP) yang dirilis secara rutin oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali. Di sisi lain, pascamerebaknya pandemi Covid-19, mulai muncul wacana untuk memperkuat sektor pertanian guna memperbaiki struktur ekonomi Bali dari ketergantungan terhadap pariwisata.

Pertimbangannya karena lapangan usaha pertanian dianggap masih mampu menjadi bantalan, setidaknya untuk menampung pergesaran penduduk bekerja yang keluar dari sektor pariwisata dan relatif lebih tahan terhadap isu-isu global. Beranjak dari hal tersebut, upaya ini seyogyanya dilakukan secara proporsional, dengan pertimbangan potensi dari masing-masing kabupaten/kota di Bali.

Baca juga:  Memaknai Karakter Karna

Pada saat kondisi pandemi melanda seperti sekarang, Bangli dan Karangasem mencatat angka penggangguran terbuka yang relatif lebih rendah dibanding daerah lainnya. Kondisi ini diduga karena sektor pertanian di kedua daerah tersebut masih mampu menampung pergeseran tenaga kerja dari sektor lainnya, selain memang disebabkan karena kontribusi lapangan usaha pertanian relatif besar terhadap perekonomiannya masing-masing.

Berbagai solusi baik dari hulu dan hilir yang telah dilakukan selama ini hendaknya terus ditingkatkan. Upaya untuk meningkatkan produktivitas pertanian, pemberian subsidi, penerapan teknologi pertanian, termasuk menjaga stabilitas harga memang sepantasnya terus ditingkatkan. Terkait dengan upaya untuk menjaga stabilitas harga, hal ini hendaknya dilakukan dengan semangat untuk meningkatkan kemakmuran petani itu sendiri. Salah satunya adalah agar semakin banyak produk pertanian bisa menembus hotel-hotel berbintang sehingga petani dapat menikmati harga yang lebih baik.

Penulis, Statistisi Muda pada Badan Pusat Statistik Provinsi Bali

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *