dr. Syahrizal Syarif, MPH, Ph.D. (BP/iah)

DENPASAR, BALIPOST.com – Fluktuasi penyebaran COVID-19 di Indonesia maupun dunia terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Padahal pada Mei, sudah terjadi penurunan penyebaran COVID-19 di banyak negara. Demikian diutarakan Ahli Epidemiologi FKM Universitas Indonesia, dr. Syahrizal Syarif, MPH, Ph.D., dalam dialog produktif bertema “Vaksin+3M: Jurus Ampuh Lawan COVID-19, disiarkan langsung kanal YouTube FMB9ID_IKP, Kamis (3/12).

Menurutnya pemerintah dan masyarakat perlu bahu membahu untuk mencegah penularan COVID-19 ini agar tidak meluas dan terkendali. Caranya, masyarakat tidak boleh mengabaikan protokol kesehatan 3M (Memakai masker, Mencuci Tangan, Menjaga jarak).

Baca juga:  Diembargo, Segini Jumlah Vaksin COVID-19 Tak Pasti Jadwal Kedatangannya

Ia mengatakan pada Mei 2020, sejauh pengamatannya, sebetulnya sudah ada 80 persen negara-negara yang wabahnya dalam kondisi terkendali, dan 20 persen fluktuatif. “Tapi hari ini angkanya berbeda, kondisi wabah fluktuatif menjadi 64 persen. Ini artinya bukan Indonesia saja, tapi dunia pun sedang fluktuatif,” ujarnya.

Ia pun menganggap di tengah situasi fluktuatif pandemi ini, penemuan vaksin merupakan kabar baik. “Karena memberikan harapan agar kita bisa keluar atau paling tidak berada dalam situasi dimana COVID-19 ini tidak jadi masalah bagi kesehatan masyarakat,” sebutnya.

Baca juga:  Sembilan Aksi Strategis Dalam Respon Pandemi Covid-19

Dari sisi kesehatan masyarakat dr. Syahrizal mengatakan vaksin sebetulnya adalah intervensi kesehatan terbaik di abad ke-20. Jadi dari semua intervensi kesehatan, vaksin ini yang terbukti mampu menurunkan angka kematian dan kesakitan. “Saya kira perlu untuk meyakinkan masyarakat agar menerima vaksin COVID-19, ini tidak mudah sehingga perlu contoh dari tokoh-tokoh masyarakat,” ujarnya.

Selain itu, dalam situasi menunggu vaksin, bahkan nanti setelah masyarakat mendapatkan vaksin sekalipun, tetap perlu untuk disiplin menjalankan protokol kesehatan 3M. Jadi, protokol kesehatan 3M dan vaksin merupakan satu paket lengkap. Untuk itu, sambil menunggu vaksin, prokes tetap dijalankan sehingga mata rantai penyebaran COVID-19 bisa diputus. “Karena vaksin ini pasti pemberiannya bertahap, munculnya kekebalan kelompok di masyarakat juga bertahap,” terang dr. Syahrizal. (Diah Dewi/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

Captcha *