I Gusti Agung Putu Arisantha. (BP/dokumen)

NEGARA, BALIPOST.com – Penambahan kasus positif COVID-19 di Jembrana masih terjadi. Bahkan dari data Satgas COVID-19 Jembrana dalam kurun seminggu ini bertambah sebanyak 107 orang.

Angka itu termasuk tinggi. Cukup signifikan dibanding sebelumnya.

Humas Satgas Covid-19 Jembrana dr I Gusti Agung Putu Arisantha, Senin ( 30/11), mengatakan kasus meningkat karena berbagai faktor. Ia menyebutkan dua faktor penyebabnya.

Pertama, ada penurunan disiplin masyarakat  dalam menerapkan 3 M sehingga penularan masih terjadi. Kedua, potensi penularan dari berbagai kegaiatan di masyarakat seperti upacara adat , agama dan sosial.

Baca juga:  Baru 87 Persen Wilayah Indonesia Alami Musim Kemarau, Ini Prediksi Awal Musim Hujan

Kegiatan yang melibatkan banyak orang sehingga sulit dalam menerapkan jarak aman, dan potensial menimbulkan penularan. “Kalau kita lihat dari data seminggu ini ada lonjakan kasus, meskipun dibarengi juga dengan tingkat kesembuhan yang tinggi. Ini menandakan penularan virus masih terjadi jika protokol kesehatan utamanya penerapan 3 M tidak secara ketat dilakukan,” paparnya

Ia juga menyampaikan kondisi Jembrana yang awalnya masuk di zona kuning bisa saja berubah statusnya menjadi orange. Sebab itu,  Satgas COVID-19 Jembrana tidak pernah lelah mengimbau masyarakat jangan kendor menerapkan 3M (memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan pakai sabun).

Baca juga:  Kembali, Dua Desa di Denpasar Ini Tambah Jumlah Pasien COVID-19 Meninggal

“Protokol 3 M itu hendaknya tetap dilakukan  di manapun dalam setiap aktivitas, serta tidak boleh lengah. Tetap komunikasikan kepada satgas di daerah apabila ada kegiatan yang berpotensi mengundang banyak orang,” ujarnya.

Dari data kumulatif, kasus positif di Jembrana sebanyak 628 kasus. Pasien sembuh sebanyak 529 dan meninggal 12 orang.

“Untuk hari ini jumlah pasien sembuh sebanyak  31 orang . Dari rumah sakit ada 16 orang, dari puskesmas ada 15. Kemudian pasien baru hari ini ada 14 orang. Mereka yang positif hari ini hasil pemeriksaan dari kontak dekat, bergejala dan dari hasil rapid test reaktif yang kemudian ditindaklanjuti dengan pemeriksaan swab,” pungkasnya (Surya Dharma/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.