Peta sirine tsunami di Bali. (BP/dok)

DENPASAR, BALIPOST.com – Selain ancaman dari selatan Jawa dengan megathrust bermagnitudo 9,1, Bali juga memiliki ancaman tsunami dari selatan Bali dan Nusa Tenggara. Di selatan Bali tersebut, ada zona yang beberapa waktu ke belakang tidak terjadi gempa.

Diungkapkan Direktur Pemetaan dan Evaluasi Risiko Bencana BNPB Dr. Aam Abdul Muhari, Jumat (9/10), wilayah itu ada potensi hingga magnitude 8,8. “Ini juga harus kita waspadai, karena beberapa gempa kecil magnitude 5 sampai 6 di selatan Bali beberapa waktu ini sudah terjadi,” jelasnya.

Baca juga:  Cegah Kecelakaan saat Arus Balik, Pos Pantau Dibangun di Jalur Keramat dan Angker

Aam menambahkan, ancaman dari selatan Bali ini dampaknya cukup luar biasa. Kalau dimodelkan, daerah Badung, khususnya Nusa Dua, dan Sanur sangat berpotensi terpapar cukup parah.

Mengingat, Bali selatan memiliki “leher” yang bisa total terendam karena dikepung air dari sisi kiri dan kanan. Meskipun, tinggi tsunami di darat diperkirakan sekitar 4 sampai 15 meter.

“Bedanya yang kiri dan yang kanan, kalau yang kanan itu adalah genangannya. Kalau yang kiri, itu kecepatan tsunaminya. Kalau di Badung, kita perhatikan banyak jalan yang tegak lurus pantai,” paparnya.

Baca juga:  Pulihnya Kunjungan Wisman Belum Mampu Dongkrak Okupansi Rate Hotel Berbintang

Jalan yang tegak lurus itu kalau dikelilingi rumah, kata Aam, maka air lebih cepat masuk ke jalan. Untuk populasi bangunan yang sangat padat di Badung (Benoa dan Nusa Dua, red), mesti dipikirkan tempat evakuasi yang banyak, mudah diakses dan terlihat.

Bali bisa mencontoh Jepang, yang di setiap perempatan jalannya ada jembatan penyeberangan. Jembatan penyeberangan itu dioptimalisasi sebagai tempat evakuasi sementara.

Baca juga:  Dua Hal Ini Sebabkan Pembagian Rastra di Pagayaman Dipertanyakan Warga

Ini bisa untuk mengantisipasi jika gempa dan tsunami terjadi di siang hari. Traffic light dipastikan mati dan orang cenderung memakai kendaraan untuk evakuasi, sehingga akan macet. “Ketika ada kemacetan, bisa naik ke jembatan penyeberangan tersebut. Ini tidak terlalu mahal, dan bisa dibuat cukup banyak,” tandasnya. (Rindra Devita/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.