Kober Pura Pameregan Kesiman saat mengawali prosesi Ngerebong secara ngubeng di Pura Petilan. (BP/Sue)

DENPASAR, BALIPOST.com – Sejak dua pekan lalu Desa Adat Kesiman memiliki sejumlah agenda upacara penting yang melibatkan banyak massa. Mulai dari upacara Pangebekan, Pemagpag Pangerebongan hingga puncaknya di prosesi Ngarebong yang jatuh pada Minggu (4/10).

Proses ngarebong kali ini dilakukan secara ngubeng sesuai tatanan protokol kesehatan (prokes) COVID-19 sehingga tampak sepi karena parade penjor, ngalungang sesuhunan dan ida bhatara dan posesi ngurek ditiadakan. Tak ada terdengar suara gamelan dan bleganjur sejak pagi hingga malam hari.

Baca juga:  Dewan Minta Kejelasan Kelanjutan Pembangunan Dermaga Gunaksa

Biasanya sebelum pandemi COVID-19, upacara Ngarebong melibatkan puluhan ribu umat di Kesiman yang terdiri dari 32 banjar adat di Kelurahan Kesiman, Desa Kesiman Petilan dan Desa Kesiman Kertalangu. Saat itu umat ngiring dan mundut sesuhunan hingga prosesi ngarebong berlangsung semarak.

Namun suasana itu tak lagi disaksikan kemarin karena upacara dilakukan ngubeng. Hanya sejumlah sesuhunan pura yang lunga yakni Kober Dalem Pemeregan dan pratima Pura Pauman yang wajib mengawali prosesi ini sejak pagi.

Baca juga:  Mayoritas, Penumpang Pesawat Pilih Surabaya

Usai kedua sesuhanan ini tiba di Pura Petilan, barulah Ida Bhatara Dalem Mutering Jagat Kesiman dan perangkatnya dihias dan katurang guru piduka. Hampir semua pangilen ngarebong ditiadakan seperti ngurek saat ngarebong an dan pangilen gider bhuwana.

Namun Desa Adat Kesiman tak melarang umatnya besembahyang ke Pura Petilan. Tetap pakai masker, jaga jarak dan persembahyangan diatur mulai dari krama Kesiman Kertalanggu, Kelurahan Kesiman dan Kesiman Petilan.

Baca juga:  Jadi Klaster Penyebaran COVID-19, Desa Adat Diminta Tindak Tegas Tajen

Semua diawasi oleh aparat Babinkamtibmas Polsek Dentim dan pecalang desa. Wakil Bendesa Adat Kesiman, Drs. I Wayan Sukana, M.Si., membenarkan sesuai surat edaran Desa Adat Kesiman No.245/05-Up/I/2020, 14 September yang merupakan hasil paruman semua komponen desa dan pemangku, bahwa Ngerebong dilakukan secara ngubeng sesuai tatanan prokes COVID-19.

Tak ada prosesi ngelungang Ida bhatara, umat cukup ngayat bhakti dari merajan masing-masing. Namun umat tetap diberi kesempatan persembahyangan secara bergiliran menghindari kerumuman. (Sueca/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.