Sang Putu Eka Pertama. (BP/may)

DENPASAR, BALIPOST.com – Surat Edaran nomor 487/GugasCovid19/IX/2020 tentang penguatan pencegahan dan pengendalian COVID-19 di Bali tertanggal 17 September 2020 mengatur sejumlah hal. Termasuk pembatasan kembali aktivitas masyarakat di luar rumah dan mengimbau agar kembali diberlakukan work from home (WFH).

Kebijakan ini, diakui pelaku pariwisata berdampak terhadap industri. General Manager The One Legian Hotel Sang Putu Eka Pertama, Jumat (18/9) menilai, Bali dengan penopang ekonominya adalah pariwisata tidak bisa bertahan jika kondisi pariwisata tidak menentu atau buka tutup seperti saat ini.

Baca juga:  Persentase Kesembuhan COVID-19 Bali Capai 77 Persen, Kasus Baru Masih Tambah Puluhan

Menurutnya, meski jumlah kasus COVID-19 masih meningkat, diharapkan tidak melupakan bidang ekonomi. Mengingat keterbatasan pemerintah dalam membiayai masyarakatnya.

Ia pun menekankan bahwa pariwisata sangat sensitif dengan berbagai isu, baik keamanan maupun kesehatan. “Kesehatan sangat penting, tapi ekonomi juga penting. Ekonomi tidak jalan, kita tidak bisa hidup. Demikian juga jika kasus meningkat, juga tidak bisa hidup. Maka penerapan protokol kesehatan harus diawasi secara ketat,” ujarnya.

Baca juga:  Sistem Buka-Tutup Pasar Tradisional Diberlakukan di Jatim

Dalam SE disebutkan menguatkan penerapan kebijakan pembatasan aktivitas di luar rumah, dengan mengoptimalkan pelaksanaan pengerjaan tugas perkantoran dengan bekerja dari rumah bagi instansi pemerintahan maupun swasta, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah. Menurutnya, poin tersebut mempengaruhi psikologis pasar wisatawan, orang menjadi takut berwisata. “Padahal untuk di Bali, meningkatkan ekonomi salah satu kata kuncinya adalah peningkatan pariwisata. Pariwisata akan bisa bergerak jika tempat wisata terpenuhi,” ujarnya.

Baca juga:  Beredar Kabar Wakil Wali Kota Denpasar Positif COVID-19, Ini Tanggapan GGTP Denpasar

Pertama mengatakan yang harus dikuatkan adalah penerapan protokol kesehatan sehingga bisa tetap aman beraktivitas di luar rumah. “Jangan sampai secara psikologis, pariwisata untuk domestik sudah naik, namun kita tutup lagi kerannya. Akhirnya tertutup dan kita mengulang dari nol untuk naik kembali,” sebutnya. (Citta Maya/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.