Suka Arjawa. (BP/dok)

Oleh GPB Suka Arjawa

Perkembangan Indonesia hingga sekarang masih belum dapat dikendalikan. Masih terus meningkat dan kita tidak pernah tahu kapan akan melandai. Bersamaan dengan itu masyarakat sudah kembali beraktivitas hampir seperti biasa ketika sebelum merebaknya virus ini.

Mereka bertindak seolah pasrah dengan keadaan atau memang tidak sadar dengan bagaimana bahayanya jika terpapar penyakit tersebut. Beberapa kajian menyebutkan bahwa akibat dari paparan virus ini bisa menetap sepanjang hidup mereka yang terkena. Mungkin maksudnya adalah berkurangnya kapasitas paru-paru untuk bekerja, memompa oksigen dan sebagainya ke seluruh tubuh.

Faktor negatif yang juga kelihatan adalah meluasnya segmen sosial yang dapat menjadi klaster. Setelah pasar tradisional, kemudian perumahan, perkantoran, sekarang sudah mulai disebut-sebut sekolah dan kampus.

Pelajar dan mahasiswa disebutkan gampang terkena paparan virus ini. Bisa jadi, akibat pola pergaulan dan darah muda mereka. Generasi muda sering kali merasa kuat, tak acuh, dan ada yang cenderung menolak menggunakan masker.

Akibatnya mereka terbiasa berbicara berdekatan. Padahal ‘’obat’’ paling mujarab untuk mencegah menularan adalah sistem sosial itu, yaitu mengatur jarak percakapan, yang disebut social distancing itu. Di negara lain, seperti Vietnam, Korea Selatan, Spanyol juga Filipina, mereka kembali melakukan karantina publik karena kasusnya melonjak terus.

Menjadi cemburu rasanya dengan negara-negara tersebut yang secara jujur mengakui kelemahannya gagal mengantisipasi lonjakan pandemik. Tetapi justru kejujuran seperti itulah yang diperlukan sebuah negara (tentu yang dimaksudkan di sini adalah pemimpin, masyarakat dan wilayahnya), jika memang ingin sehat, maju dan kemudian mampu mengetahui kelebihan dan kelemahan sendiri.

Baca juga:  Diungkap, Beratnya Beban Petugas Jaga Pintu Masuk Bali Cegah COVID-19

Meski demikian, perkembangan positif yang juga dapat dirasakan di Indonesia adalah adanya uji klinis tahap ketiga dari vaksin Corona yang dilakukan di Bandung. Ribuan anggota masyarakat mendaftar untuk menjadi sukarelawan.

‘’Bibit’’ vaksin ini berasal dari China karena dikembangkan oleh perusahaan China. Pada titik ini, mudah-mudahan tidak muncul spekulasi bahwa negara itu memproduksi virus dan kemudian menjual obat antivirusnya ke seluruh dunia.

Alangkah paradoksalnya apabila itu terjadi. Sekali lagi mudah-mudahan tidak muncul pendapat seperti itu. Bisa dibayangkan, bagaimana besarnya jumlah uang yang dapat diterima apabila seluruh dunia membeli vaksin dari perusahaan ini kelak.

Akan tetapi, demi kesehatan kita harus berharap agar vaksin itu segera ditemukan, siapa pun negara yang akan menjadi pelopor penemunya: entah China, Rusia, Amerika Serikat atau Uni Eropa. Indonesia mungkin kembali menjadi pembeli, padahal mempunyai gunungan berbagai tanaman obat yang masih belum sepenuhnya dieksplorasi.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dari uraian di atas. Yang pertama adalah ancaman pertambahan klaster. Fenomena ini dapat dikatakan sebagai hal yang sangat membahayakan. Dari sisi sosial, klaster merupakan kelompok yang mempunyai kesamaan identitas atau ciri yang sama.

Klaster perumahan, jelas terdiri dari rumah, dengan kemampuan ekonomi, sifat, perilaku, budaya dan nilai yang sama. Orang mempunyai ciri demikian paling sulit mengubah kesamaannya tersebut. Dengan demikian, dalam hubungan perilaku sosial dan penyebaran Covid, klaster inilah yang paling mudah menyebarkan pandemik tersebut.

Baca juga:  Ratusan Santri Asal Bali Masuk Lewat Gilimanuk

Pada titik yang lain, tekanan sosial bagi penderita dan keluarganya juga terjadi pada klaster ini. Masyarakat Indonesia, dengaan pengetahuan yang demikian terbatas soal penyakit (apalagi Covid-19), sering kali melakukan stigma (cap negatif) kepada mereka yang terpapar Covid-19. Dan mereka akan menyingkirkan dari pergaulan sosial mereka yang dianggap terpapar virus tersebut.

Bayangkan, bagaimana tertekannya secara psikologis mereka yang terstigma di klasternya sendiri, di lingkungan tempat tinggalnya sendiri. Jadi, klaster inilah yang paling menderita dalam segala hal terhadap penyebaran virus ini.

Tidak bisa lain, harus dilakukan pencegahan progresif agar tidak munculnya klaster-klaster baru di Indonesia. Khusus untuk kegiatan kepelajaran, jangan sekali-sekali dibuka dulu sebelum nyata terlihat kedisiplinan masyarakat.
Kedua, adalah sikap negara. Pandemi Covid ini memperlihatkan bahwa tidak semua negara berhasil menang.

Tetapi beberapa negara mengambil sikap mengakui kegagalan dan juga kekalahan tersebut. Layaknya sebuah perang antarnegara atau perang apa pun, yang memang harus ada pihak yang kalah dan menang. Memaksakan diri mengaku menang di dalam kekalahan, berarti akan menanggung kekalahan secara terus-menerus.

Tetapi sebuah pengakuan terhadap kekalahan, memberi potensi untuk bangkit. Di Bali dikenal namanya jengah. Jengah itu bukan sekadar lek, tetapi jauh di dalamnya ada pesan tersembunyi yang memiliki sumber daya bangkit secara luar biasa.

Baca juga:  Dua Oknum Wartawan di Tipiring

Ada nuansa pengakuan, persiapan diri, perjuangan, kerja keras, pembelajarn, pencapaian tujuan, disiplin, tekad dan seterusnya yang berpilin-pilin menjadi kesatauan untuk mencapai keberhasilan. Itulah yang terjadi pada Jepang dan Jerman. Mereka kalah, tumbang dan luluh-lantak di Perang Dunia II. Tetapi kemudian bangkit dan menguasai dunia karena jengah itu. Juga Korea Selatan yang jengah dengan Korea Utara.

Terhadap Covid-19 ini, beberapa negara telah mengakui kekalahan dan kegagalannya seperti Filipina, Vietnam, Spanyol, dan Korea Selatan. Bahwa mereka kembali melakukan pembatasan sosial (karantina tempat), itu merupakan kejujuran atas kegagalan mengendalikan Covid-19. Maka, pembatasan sosial yang baru dilakukan lagi oleh negara itu pasti mengandung kadar perbaikan-perbaikan atas kegagalan yang dilakukan sebelumnya. Maka, potensi kemenangan pun akan ada di depan mata.

Bagaimana dengan Indonesia? Seharusnya negara ini mengakui kegagalannya dalam melawan Covid-19, seharusnya kembali dilakukan pembatasan sosial. Tetapi harus dilandasi oleh prinsip jengah itu, yaitu akumulasi berbagai sumber daya yang dibulatkan menjadi satu, sehingga mampu memenangkan pertarungana ke depan.

Tidak hanya pemerintah, rakyat juga melakukannya. Jika sudah tidak gengsi menjual pindang, telur, buah dengan mobil bermerek, mengapa harus gagal menghadapi Covid-19?

Penulis, Staf Pengajar Sosiologi FISIP Universitas Udayana

BAGIKAN