Ir. Dharma Gusti Putra Agung Kresna. (BP/Istimewa)

Oleh Agung Kresna

Tentu masih lekat dalam ingatan kita aksi pawang hujan Rara Istiani Wulandari yang akrab disapa Mbak Rara di tengah derasnya hujan, saat gelaran MotoGP di Sirkuit
Mandalika, Lombok, NTB, pada 20 Maret 2022. Aksi ini merupakan upaya menghentikan derasnya hujan yang
mengganggu pelaksanaan seri ke dua MotoGP 2022 tersebut.

Bencana hidrometeorologi seperti hujan lebat, angin puting beliung, longsor, dan banjir, adalah bencana alam yang
hanya bisa diprakirakan, tanpa kepastian kaapan hal itu akan terjadi. Sehingga diperlukan mitigasi hidrometeorologi guna meminimalkan terjadinya akibat buruk karena bencana alam tersebut.

Mitigasi diperlukan sebagai panduan penanganan saat bencana. Meski gelaran MotoGP Mandalika berlangsung pada bulan Maret, nyatanya hujan deras beserta angin ribut masih terjadi. Sehingga mitigasi bencana hidrometeorologi maupun mitigasi bencana alam, menjadi suatu keniscayaan bagi berbagai perhelatan internasional di Indonesia.

Baca juga:  “Taksu”, Aset Tak Berwujud Bali

Hal ini diperlukan agar perhelatan tersebut tetap berlangsung dengan aman dan nyaman. Puncak perhelatan KTT G20 yang akan berlangsung pada November 2022 di Bali, tentu juga perlu menyiapkan mitigasi kes￾elamatan maupun keamanan; agar semua dapat berlangsung dengan lancar.

Berbagai persiapan keamanan memang sudah dilakukan mitigasinya. Namun apakah mitigasi keselamatan terkait hidrometeorologinya sudah disiapkan dengan maksimal.

KTT G20 sebagian besar akan berlangsung di kawasan Nusa Dua. Jika dilihat dari sudut pandang security/keamanan, area Nusa Dua merupakan kawasan/cluster yang relatif tertutup, sehingga tidak terlalu sulit untuk dikendalikan.

Namun jika dilihat dari sisi safety/keselamatan, Nusa Dua bukan kawasan yang bebas dari potensi bencana alam. Potensi ancaman bahaya cuaca ekstrem tentu harus diwaspadai dan disiapkan mitigasinya.

Apalagi jika melihat penyelenggaraan puncak KTT G20 berlangsung pada November, dimana potensi curah hujan lebat masih cukup tinggi. Meski hampir semua kegiatan KTT G20 berlangsung di dalam bangunan, namun mitigasi hidrometeorologi tetap harus ada.

Baca juga:  Ekonomi Mengendurkan Krisis

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)
sebagai instansi yang memiliki kewenangan di bidang
hidrometeorologi telah memprakirakan bahwa Bali pada
bulan November memiliki potensi cuaca ekstrem dengan curah hujan tinggi. Sehingga mitigasi hidrometeorologi menjadi harga mati yang harus disiapkan dalam puncak perhelatan KTT G20 ini.

Sementara potensi terjadinya gempa besar (mega thrust) di Bali Selatan juga harus disiapkan mitigasinya. Potensi mega thrust ini pernah dilansir dalam headline Bali Post 20/3/2020 dan 1/10/2020. Potensi dari segmen Bali ini karena subduksi aktif lempeng Indo-Australia yang menghunjam lempeng Eurosia, berada hanya pada 100
km selatan Bali.

Data penelitian juga menunjukkan bahwa ada kawasan berpotensi rawan likuifaksi di Bali Selatan. Data potensi ini
tentu harus kita waspadai melalui mitigasi.

Baca juga:  Berpulang kepada Rakyat

Sehingga jika potensi ini benar-benar terjadi, maka sudah ada langkah-langkah sistematis dalam penanganannya guna meminimalkan angka jatuhnya korban. Puncak KTT G20 di Bali harus dapat berlangsung dengan sukses, apapun bentuk gangguan keamanan dan keselamatan bagi
para delegasi negara peserta KTT G20.

Bali harus mampu menunjukkan bahwa Pulau Dewata ini merupakan kawasan yang aman dan nyaman bagi para tamu dari berbagai negara. Kita tentu tidak ingin ada harga sangat mahal yang harus dibayar akibat ketidaksiapan Bali dalam menyikapi kenyataan potensi bencana alam dan hidrometeorologi yang tidak bisa kita perkirakan kapan
datangnya. Mitigasi hidrometeorologi menjadi salah satu upaya Bali mengawal kesuksesan penyelenggaraan puncak KTT G20 di Bali.

Penulis, Arsitek, Senior Researcher pada Centre of Culture & Urban Studies (CoCUS) Bali, tinggal di Denpasar

BAGIKAN