Seorang nelayan mendayung jukungnya saat siang hari di Pantai Batu Jimbar, Sanur, Denpasar. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Di Indonesia, catatan Iklim BMKG, menunjukkan pada 2019 merupakan tahun terpanas kedua setelah 2016 di Indonesia dengan peningkatan 0.84°C di atas rerata iklim 1981-2000. Emisi gas rumah kaca (GRK) terukur di Stasiun GAW BMKG Kototabang terus meningkat mencapai 408,2 ppm meskipun masih relatif lebih rendah dari GRK global.

Jumlah kejadian bencana hidrometeorologi terus bertambah mencapai 3362 kejadian. Penelusuran bukti perubahan iklim oleh peneliti BMKG dengan menggunakan data suhu di Jakarta hasil pengamatan sejak zaman Belanda (selama 150 tahun) menunjukkan bahwa, peningkatan suhu rata-rata yang signifikan di Jakarta, yaitu 1,6°C dari 1866 hingga 2012. Laju peningkatan ini cukup dapat dibandingkan dengan hasil analisis WMO, yaitu kenaikan suhu global sebesar 1,1°C terhadap zaman pra-industri (1850-1900) sebagai garis dasar periode acuan perubahan iklim global.

Baca juga:  STT Dharma Bakti Kobarkan Semangat Tolak Reklamasi Teluk Benoa

Suhu bumi yang terus memanas itu telah berdampak pada lingkungan. Salah satunya memicu perubahan pola hujan dan peningkatan cuaca ekstrem. Di Indonesia, secara umum perubahan pola hujan itu ditandai oleh peningkatan hujan di daerah di utara khatulistiwa yang menyebabkan iklimnya cenderung semakin basah.

Sementara di selatan khatulistiwa cenderung kering. Namun di banyak tempat ditemukan bukti bahwa hujan dalam kategori ekstrem terus meningkat kejadiannya.

Baca juga:  Ini, Pesan Pangdam ke Satgas Pamtas RI-RDTL Yonif Mekanis 741/Garuda Nusantara

Di Jakarta, data 130 tahun menunjukkan, sekalipun rata-rata curah hujan tahunan relatif sama, bahkan menurun. Namun frekuensi hujan ekstrem justru meningkat.

Sekitar 10% intensitas hujan tertinggi di Jakarta (di atas 100 mm per hari) telah meningkat 14% akibat penambahan suhu per 1 derajat celcius. “Tren cuaca ekstrem juga meningkat, ditandai dengan peningkatan frekuensi dan skala bencana hidrometeorologi,” tandas Deputi Bidang Klimatologi, BMKG, Herizal, M.Si., dalam siaran persnya, Selasa (14/7). (Winatha/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.