Petugas Puskesmas akan melakukan swab di Pasar Abiantimbul, Senin (13/7). (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Sejumlah pedagang di Pasar Abiantimbul menolak melakukan tes swab. Alasannya, mereka sudah dites swab seminggu lalu.

Bahkan, hasil tes swab sudah keluar per 10 Juli yang menyatakan negatif.  Akibat penolakan itu, rencana tes untuk kedualinya, Senin (13/7) ditunda.

Dirut Perumda Pasar Sewakadharma Kota Denpasar, I.B. Kompyang Wiranata yang dikonfirmasi mengatakan, penolakan ini dikarenakan adanya miskomunikasi. Awalnya, pada 12 Juni lalu, seorang pedagang ikan sempat terjangkit demam berdarah.

Baca juga:  Volume Sampah Diprediksi Meningkat 30-40 Persen Saat Pergantian Tahun

Sejak saat itu mereka tidak berjualan. Kemudian pada 28 Juni dilakukan tes swab terhadap pedagang tersebut dan hasilnya positif COVID-19.

Kompyang Wiranata mengatakan, karena positif, maka pihaknya dibantu Tim Gugus Tugas Percepatan Penangan COVID-19 Denpasar melakukan tracing. Ditemukanlah 25 orang pedagang yang sempat kontak.

Mereka ini kemudian dites swab pada 3 Juli lalu. Dari 25 pedagang yang ikut swab, diketahui 6 orang pedagang positif COVID-19.

Mengingat ada pedagang ada yang positif maka kembali dilakukan tracing kepada pedagang yang berada pada radius 10 meter dan ditemukan 16 orang pedagang yang harusnya menjalani swab hari ini. Akan tetapi pihak puskesmas yang akan melakukan swab meminta agar pedagang yang sudah dinyatakan negatif sebelumnya sebanyak 19 orang untuk ikut swab kembali.

Baca juga:  Sepekan Terakhir, Segini Jumlah Rerata Pelaku Perjalanan Jalani Rapid Test di Gilimanuk

Alasannya karena 19 orang pedagang ini tak melakukan isolasi mandiri dan tetap berjualan selama hasil swab belum keluar. “Dikarenakan 19 pedagang ini komplain, maka 16 pedagang yang harusnya ikut swab hari ini terpengaruh dan pelaksanaan tes swab pun ditunda,” ujarnya.

Kompyang Wiranta berharap kalau memang harus isolasi mandiri, Gugus Tugas diharapkan segera berkoordinasi dengan satgas masing-masing desa, apalagi sudah ada nama-nama pedagangnya. “Jika misalnya kami tidak izinkan berjualan, di rumahnya mereka kan tetap berkeliaran ke mana-mana jika tak diawasi Satgas desa atau kelurahannya. Ini kan tidak sinkron jadinya, harusnya ada koordinasi,” katanya. (Asmara Putera/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.