Sejumlah wisatawan mengunjungi Pantai Kuta sebelum ditutup karena pandemi COVID-19. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Saat ini pertambahan kasus positif COVID-19 di Bali masih cukup tinggi. Namun, dalam menangani COVID-19, bukan hanya soal menurunkan angka penularan karena transmisi lokal.

Menurut anggota Komisi II DPRD Bali, A.A. Ngurah Adhi Ardhana dikonfirmasi, Senin (22/6), pemerintah juga harus bisa mengukur penerapan protokol kesehatan berikut dengan motivasi masyarakat. Dua hal ini, kata Adhi, menjadi sesuatu yang penting sebelum membuka sektor pariwisata.

“Kita harus berbicara terukur terkait dengan penerapan protokol kesehatan dan harus bisa diukur seberapa motivasi masyarakat untuk melaksanakan protokol kesehatan,” ujarnya, Senin (22/6).

Adhi mengatakan esensi dunia pariwisata adalah “take and give” untuk menjaga nilai mata uang. Suatu negara tidak hanya mengirim warganya untuk berwisata, tapi juga menerima wisatawan dari negara lain.

Mereka pasti akan berhitung wisatawan dari negara mana saja yang bisa masuk ke negaranya. Begitu juga akan mengirim warganya untuk berkunjung ke negara lain yang sudah membuka akses masuk.

“Negara lain akan dilihat. Kalau bisa masuk, lebih baik warganya diizinkan ke sana, yang lain diblok,” jelasnya.

Menurut Adhi Ardhana, negara lain seperti Singapura masih akan menutup diri selama 2020. Padahal Singapura cukup strategis di Asia Tenggara karena merupakan hub penerbangan.

Kemudian Australia, memang sudah akan membuka akses pada Oktober. Namun, kedatangan wisatawan negeri kangguru itu juga sangat tergantung dari upaya Bali menangani COVID-19 secara terukur dalam tiga bulan ke depan. “Harus ada kajian epidemiologis. Memang kita sudah menanjak, apa yang harus kita lakukan,” imbuhnya.

Hasil survey memang menunjukkan bahwa Bali adalah destinasi yang paling ingin dikunjungi oleh wisatawan mancanegara seperti Jerman, Australia dan Belanda. Namun, Adhi Ardhana mengingatkan hasil survey itu barulah “keinginan”.

Dalam hal ini, pemerintahnya belum mengizinkan warganya untuk berkunjung. Ditambah lagi, pemerintah Indonesia juga belum memastikan mau menerima.

Oleh karena itu, Politisi PDIP ini mewanti-wanti agar penerapan protokol dan motivasi masyarakat harus terukur. Penerapan protokol di kabupaten/kota seluruh Bali, termasuk tingkat disiplin serta motivasi masyarakat dalam menerapkan social distancing dan laku bersih dapat dituangkan dalam suatu index ataupun persentase.

“Hal ini dapat mempresentasikan kesiapan Bali dan meraih kepercayaan dunia (bukan hanya keinginan, red) untuk kembali berkunjung,” paparnya.

Di Bali khususnya, 85 persen penyumbang struktur PDRB terkait dengan sektor pariwisata. Namun seperti diketahui, pandemi COVID-19 telah meluluhlantakkan sektor ini. Termasuk produk pertanian juga ikut menjadi tidak terserap. (Rindra Devita/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.