Beberapa wisatawan mancanegara (wisman) melihat papan informasi yang ada di pinggir pantai di wilayah Sanur, Denpasar. Untuk menjaring wisatawan berkualitas, Bali berencana menerapkan aturan kecukupan finansial bagi wisman yang hendak berwisata di Bali. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Tantangan terbesar pariwisata Bali ke depan bukan lagi soal pemulihan atau peningkatan jumlah kunjungan.

Menurut Ketua Bali Tourism Board (BTB), Ida Bagus Agung Partha Adnyana di Denpasar, Bali dihadapkan pada pekerjaan rumah besar agar pertumbuhan pariwisata tidak melampaui daya dukung alam, sosial, dan budaya. Ia menyebut, persoalan klasik seperti kemacetan, sampah, tata ruang, ketersediaan air bersih, hingga kualitas sumber daya manusia (SDM) masih menjadi isu krusial yang harus ditangani secara konsisten dan lintas sektor.

“Pariwisata Bali tidak boleh tumbuh tanpa kendali. Kalau pertumbuhan melampaui daya dukung, justru akan merugikan Bali sendiri dalam jangka panjang,” ujarnya Kamis (8/1).

Di tengah persaingan destinasi global yang semakin ketat, Agung Partha menilai Bali tidak bisa lagi mengandalkan citra sebagai destinasi murah atau mass tourism. Arah ke depan adalah penguatan kualitas dan nilai pengalaman.

Beberapa aspek yang perlu ditingkatkan antara lain profesionalisme SDM pariwisata, standar usaha yang adil dan setara, infrastruktur pendukung, serta konektivitas antarwilayah. Selain itu, Bali perlu memperkuat narasi sebagai destinasi budaya yang berkelanjutan, bukan sekadar destinasi ramai dan terjangkau. “Persaingan ke depan bukan soal harga, tetapi soal pengalaman, nilai, dan kualitas,” tegasnya.

Baca juga:  Pariwisata Bali di Persimpangan Jalan

Terkait target kunjungan wisatawan 2026, Agung Partha menyebut pendekatannya kini tidak lagi berfokus pada angka semata. Tahun 2025 menunjukkan bahwa kunjungan wisatawan ke Bali telah pulih, bahkan melampaui level sebelum pandemi. Namun, peningkatan tersebut juga memunculkan tantangan serius terhadap lingkungan dan masyarakat lokal.

Untuk 2026, fokus utama pariwisata Bali diarahkan pada menjaga stabilitas kunjungan, meningkatkan lama tinggal, serta mendorong belanja wisatawan yang lebih berkualitas dan berdampak positif.

Agung menekankan bahwa konsep quality tourism harus diukur dari dampaknya, bukan hanya dari statistik kunjungan.

Indikatornya antara lain sejauh mana wisatawan menghormati budaya dan aturan lokal, manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat, tekanan terhadap lingkungan yang terkendali, serta peningkatan kualitas pengalaman wisatawan.

Baca juga:  Pengelolaan Pariwisata Nusa Penida Belum Maksimal

Ia mengakui penerapan quality tourism di Bali masih belum merata dan masih dalam proses. Tantangan terbesarnya adalah memastikan seluruh pelaku usaha benar-benar konsisten menjalankannya, bukan sekadar menjadikannya jargon kebijakan.

Dari sisi pelaku usaha, Agung menegaskan wisatawan mancanegara (wisman) dan wisatawan nusantara (wisnus) memiliki peran yang sama-sama strategis dan saling melengkapi. Wisman cenderung memberikan nilai belanja lebih tinggi per orang, khususnya untuk akomodasi, restoran, dan aktivitas wisata tertentu.

Sementara itu, wisnus berperan besar dalam menjaga stabilitas okupansi dan perputaran ekonomi lokal, terutama di luar musim puncak. Bahkan, dampak belanja wisnus dinilai lebih merata karena langsung menyentuh UMKM, kuliner lokal, transportasi, dan atraksi berbasis komunitas.

Ia menegaskan pariwisata Bali ke depan harus menjadi alat untuk menyejahterakan masyarakat, menjaga budaya, dan melindungi alam, bukan sekadar mengejar angka kunjungan. “Kunci utamanya adalah kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, dan wisatawan itu sendiri,” ucapnya.

Baca juga:  Saatnya Bali Lakukan Detoks "Candu" Pariwisata

Sementara itu Kepala BPS Provinsi Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan mengungkapkan, wisman yang datang langsung ke Provinsi Bali pada November 2025 tercatat sebanyak 483.364 kunjungan, turun 18,74 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat sebanyak 594.853 kunjungan.

“Wisatawan yang berasal dari Australia mendominasi kedatangan wisman ke Bali pada November 2025 dengan share sebesar 25,64 persen,” terangnya.

Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang pada November 2025 tercatat sebesar 57,97 persen, turun 6,60 persen poin jika dibandingkan dengan bulan Oktober 2025 yang tercatat sebesar 64,57 persen. Jika dibandingkan dengan bulan November 2024 (y-on-y) yang mencapai 59,61 persen, tingkat penghunian kamar pada November 2025 tercatat turun 1,64 persen poin.

Sementara itu, TPK hotel non bintang tercatat sebesar 39,46 persen, turun 4,49 persen poin dibandingkan bulan Oktober 2025 yang tercatat sebesar 43,95 persen.(Suardika/balipost)

BAGIKAN