Seorang pedagang di Pasar Tradisional Satria, Desa Paksebali, saat mencuci tangan di depan pasar. (BP/Gik)

SEMARAPURA, BALIPOST.com- Proses tracing yang agresif dilakukan petugas kesehatan, mengungkap penyebaran COVID-19 ini, terus meluas. Transmisi lokal terus terjadi, khususnya dari klaster pedagang di Pasar Umum Galiran. Melihat luasnya dampak hingga ke desa, kasus positif yang banyak terjadi dalam satu dusun, sedang dipertimbangkan untuk melakukan karantina dusun.

Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Klungkung Nyoman Suwirta, Minggu (14/6) mengatakan kembali terjadi penambahan transmisi lokal sebanyak dua orang. Salah satunya, dikatakan bekerja di Gianyar.

Sementara pada Sabtu (13/6) juga terjadi penambahan kasus positif lagi 5 orang sekaligus di Desa Paksebali, Kecamatan Dawan. “Positif 5 orang ini hasil dari transmisi lokal dari kasus pedagang positif COVID-19 di Pasar Umum Galiran,” kata Suwirta.

Baca juga:  Ribuan Blanko Ijazah SD Belum Dikirim Pusat

Melihat persoalan tersebut, pihaknya pun kembali mengingatkan agar warga setempat kembali memperketat penerapan protokol kesehatan masyarakat. Jangan sampai ke 5 orang tersebut justru menjadi pencetus lagi untuk penyebaran kasua baru. Suwirta mengaku cukup khawatir dengan situasi di Desa Paksebali, dimana disana juga ada Pasar Tradisional Satria yang cukup banyak pedagang.

Selain Paksebali, penyebaran tinggi kasus positif COVID-19 di desa juga terjadi di Desa Gunaksa. Disana dikatakan ada sebanyak 7 kasus positif COVID-19, penyebarannya terjadi dalam satu kompleks gang perumahan warga setempat. Melihat perkembangan kasus positif demikian, pihaknya mulai mempertimbangkan untuk melakukan karantina dalam satu dusun. Namun, langkah itu urung dilakukan sementara.

Baca juga:  Dua Hari Berturut-turut, Bali Masuk 5 Besar Penyumbang Terbanyak Kasus COVID-19 Harian

Suwirta menegaskan, pihaknya masih mengandalkan petugas dari Satgas Gotong Royong setempat, untuk memastikan untuk melakukan karantina mandiri bagi anggota keluarga yang sempat diajak kontak erat dengan warga yang sebelumnya sudah terpapar COVID-19. “Kami masih melihat perkembangan dulu. Kalau penyebarannya masih dalam satu gang, maka yang diisolasi mandiri, cukup keluarga yang tinggal dalam satu gang itu. Tetapi, kalau sebarannya di banyak titik dalam satu dusun/banjar, maka bisa dilakukan karantina dusun,” tegasnya.

Bendesa Adat Sampalan (wilayahi Desa Paksebali), Ketut Sujana, mengatakan meniadakan COVID-19 ini jelas tidak mungkin. Tetapi, menurutnya masyarakat bisa melatih diri untuk hidup lebih taat terhadap imbauan dan standar protokol kesehatan. “Mohon kepada warga taat kepada guru wisesa, taat kepada arahan desa adat dan taat kepada petugas di lapangan,” tutur Sujana.

Baca juga:  Direncanakan Buka 9 Juli, Ini Persiapan DTW Jatiluwih

Sujana berharap agar masyarakat tetap taat dan disiplin dengan setiap imbauan dari pemerintah. Protokoler kesehatan agar tetap dijalankan. Maka pihaknya yakin, penyebaran COVID-19 semakin cepat terputus di tengah masyarakat. “Kaitan dengan masyarakat kita yang berkegiatan ekonomi, seperti menjadi pedagang, ini menjadi tantangan bersama. Apalagi, seperti di Sampalan, memiliki dua pasar tradisional (Satria dan Sampalan Klod). Jadi, ketaatan masyarakat menjadi kunci untuk berhasil tidaknya menghentikan penyebaran COVID-19 ini,” tegasnya. (Bagiarta/Balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.