Dewa Made Indra. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Dalam dua pekan terakhir, terjadi 3 kasus meninggal yang terkonfirmasi positif COVID-19. Satu kasus terjadi di Badung, warga Sayan Baleran yang meninggal pada 31 Mei. Kemudian di Gianyar, warga Serongga berusia 12 tahun meninggal pada 30 Mei. Dan terakhir, di Denpasar warga Kesiman Petilan meninggal pada 9 Juni.

Jika melihat penambahan kasus meninggal itu, semestinya di data yang dilansir Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Bali, total kasus meninggal sebanyak 7 orang. Namun dari data terakhir pada Kamis (11/6) per pukul 18.00 WITA, data meninggal di Bali masih tetap 5 orang.

Menurut Ketua Harian GTPP COVID-19 Bali, Dewa Made Indra, Jumat (12/6), kendati hasil uji swab menyatakan positif, namun tidak semua pasien meninggal masuk dalam daftar pasien meninggal COVID-19. Utamanya yang datang ke RS dengan keluhan penyakit lain.

Ia pun mengatakan hal ini rupanya masih membutuhkan persamaan persepsi antara provinsi dan kabupaten/kota. Lantaran perbedaan data pasien COVID-19 yang meninggal dunia masih terjadi. “Ini ada sesuatu yang masih harus diclearkan. Dinas Kesehatan Provinsi Bali sudah tahu itu, sudah berkoordinasi, terutama soal catat mencatat,” ujar Dewa Indra.

Ada beberapa kejadian, kata Dewa Indra, seseorang tidak berstatus sebagai pasien COVID-19 dan tidak ada riwayat interaksi dengan orang yang terpapar COVID-19. “Orang ini kemudian ke RS, dirawat, lalu meninggal dunia dan diambil swabnya. Ternyata, hasil uji swabnya positif. Ini yang harus ditertibkan dulu. Pemprov, khususnya Dinas Kesehatan tidak mencatat itu sebagai kasus COVID-19,” jelasnya.

Menurut Dewa Indra, hal tersebut karena pasien itu memang tidak datang ke RS dengan kasus COVID-19 dan tidak ada riwayat COVID-19. Bahkan ada beberapa yang meninggal itu sudah dengan penyakit bawaan.

Sebagai contoh pasien meninggal di Mengwi, Badung dikatakan memiliki riwayat sakit paru sudah cukup lama. Bahkan, bulan yang lalu sudah opname di RS Mangusada. “Penyakitnya sudah jelas, itu lalu diambil swabnya. Namanya sakit paru menahun, diambil swabnya ya… positif. Padahal itu belum tentu karena COVID-19, meninggal juga,” paparnya.

Dewa Indra menambahkan, penjelasan dari beberapa dokter dan Dinas Kesehatan Provinsi, orang-orang yang memiliki penyakit paru dan jantung kalau di uji swabnya pasti akan positif.

Di sisi lain, Sekda Provinsi Bali ini justru tidak dapat menyebut secara pasti siapa pasien kelima yang tercatat sebagai pasien Covid-19 meninggal dunia. “Saya harus melihat tanggalnya, supaya tidak salah,” kelitnya.

Padahal dari catatan balipost.com, pascalaporan seorang warga Sayan Baleran, Mengwi, yang memiliki penyakit bawaan diabetes dan jantung itu meninggal pada Minggu (31/5), pada Senin (31/5), Dewa Indra dalam rilisnya melaporkan terjadi penambahan 1 pasien COVID-19 yang meninggal dunia sehingga total kasus meninggal menjadi 5 orang. (Rindra Devita/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.