Wagub Bali, Cok Ace. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Jajak pendapat terhadap publik Belanda dilakukan secara daring dalam rangkaian Webinar yang digelar Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kamis (11/6). Kegiatan ini dalam upaya memperkuat peran perwakilan promosi pariwisata Indonesia di luar negeri atau VITO (Visit Indonesia Tourism Officer) di Negeri Belanda.

Hasilnya, 76 persen publik Negeri Kincir Angin itu menjawab ‘Bali’ ketika ditanya daerah mana di Indonesia yang saat ini sangat ingin mereka kunjungi. “Kami sangat memahami kerinduan masyarakat dunia, khususnya warga negara Belanda untuk segera dapat berwisata ke Bali,” kata Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace) yang menjadi pembicara pada kegiatan webinar itu.

Cok Ace yang juga Ketua PHRI Bali ini mengaku banyak mendapat pertanyaan kapan pariwisata Bali akan dibuka kembali. Pertanyaan itu tak hanya datang dari masyarakat Bali yang sebagian besar berkecimpung dalam sektor pariwisata.

Publik dunia pun sudah sangat rindu untuk datang menikmati kembali keindahan alam dan budaya Bali. Namun pemerintah belum dapat mengatakan secara pasti kapan Bali akan dibuka kembali.

“Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 pusat menetapkan 3 kriteria dengan 11 indikator bagi daerah di Indonesia untuk membuka kembali kegiatan ekonominya,” imbuhnya.

Menurut Cok Ace, salah satu indikatornya adalah penurunan jumlah kasus positif selama 2 minggu terakhir minimal 50 persen sejak puncak penambahan kasus positif COVID-19. Sementara mencermati perkembangan saat ini, penyebaran COVID-19 di Bali masih belum menunjukkan penurunan yang stabil.

Namun, pihaknya meyakinkan bahwa saat ini Bali terus berupaya melakukan upaya terbaik dalam menanggulangi penyebaran wabah COVID-19. “Sejalan dengan itu, kita juga bekerja keras mempersiapkan segala hal yang esensial bagi kehidupan kenormalan baru (new normal) di masa mendatang,” jelas pria yang mengikuti Webinar secara daring dari ruang kerjanya itu.

Cok Ace menambahkan, Bali telah menyusun protokol kesehatan untuk diterapkan pada seluruh sektor pelayanan publik maupun swasta yang berfokus pada kebersihan (cleanliness), kesehatan (health), serta keamanan (safety). Penglingsir Puri Ubud ini sangat berharap, Bali dapat dengan cepat meraih peluang untuk menjadi destinasi wisata yang unggul begitu dinyatakan layak dibuka kembali.

Peluang ini dapat diraih selama Pulau Dewata bisa memastikan bahwa wisatawan yang berkunjung mendapatkan perasaan aman dari resiko penyebaran virus COVID-19. “Oleh karena itu, implementasi protokol kesehatan pada seluruh sektor, terutama industri pariwisata, menjadi fokus utama kita semua,” tegasnya.

Secara khusus, Cok Ace meyakinkan publik negeri Belanda bahwa Bali sejatinya cukup berhasil mengendalikan penyebaran COVID-19 hingga mendapat apresiasi langsung dari Presiden RI Joko Widodo. Sekalipun trend perkembangannya masih fluktuatif, namun secara umum Bali hanya berkontribusi 1,9% pada angka kasus positif COVID-19 di Indonesia dengan angka kematian yang sangat kecil.

Keberhasilan Bali dalam menekan angka penderita COVID-19 ini berkat upaya dan dukungan dari berbagai pihak. Strategi yang ditempuh Bali untuk menanggulangi pandemi ini pun terbilang unik.

Tidak seperti daerah lainnya di Indonesia, Bali memilih untuk tidak melakukan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Strategi Bali dalam menanggulangi pandemi virus Corona dilakukan secara bertahap dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat dan instansi pemerintah daerah, baik di tingkat provinsi maupun di tingkat kabupaten/kota.

Hal ini ditunjukkan dengan pembentukan Satgas COVID-19 di tingkat Provinsi maupun di tingkat Kabupaten/Kota. Selanjutnya, Bali juga membentuk Satgas Gotong Royong yang memberdayakan desa adat di Bali. “Ini adalah bentuk sinergitas masyarakat dengan pemerintah dalam rangka memutus mata rantai penyebaran virus dengan memanfaatkan kearifan lokal,” imbuhnya.

Selain itu, Bali juga memberlakukan kebijakan preventif lainnya berupa screening ketat di pintu masuk dan impementasi protokol kesehatan pada fasilitas publik. Salah satu contoh penerapan kebijakan ini adalah memberlakukan syarat hasil tes PCR (swab) negatif bagi pelaku perjalanan udara sebelum keberangkatan menuju Bali.

Kebijakan ini diambil sebagai upaya untuk meningkatkan jaminan keamanan baik bagi wisatawan maupun masyarakat Bali. Cok Ace menyebut, tes PCR akan meringankan beban pikiran wisatawan sebelum bepergian.

Sebab mereka akan lebih percaya diri dan yakin bahwa diri mereka terbebas dari virus Corona. Di sisi lain, masyarakat Bali pun akan dengan senang hati menyambut mereka kembali ke Bali. “Saya menyadari bahwa saat ini biaya tes PCR masih terbilang mahal, namun jika melihat manfaat yang diperoleh saya rasa hal ini tidak akan terlalu menjadi hambatan bagi pariwisata Bali,” pungkasnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nia Niscaya mengatakan, rangkaian webinar salah satunya bertujuan untuk menjaga brand awareness pariwisata Indonesia. Selain itu, diharapkan terjadi soft selling antara para pelaku usaha di luar negeri dengan pelaku usaha dalam negeri yang berpartisipasi.

Dengan demikian pariwisata Indonesia diharapkan menjadi top of mind dalam pilihan calon wisatawan. Kegiatan webinar yang sudah dilaksanakan sejak 11 Mei 2020 menyasar pasar sejumlah negara seperti Belanda, Rusia, Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, Singapura, Malaysia, Thailand, Taiwan, India, Timur Tengah dan Arab Saudi.

Destinasi wisata yang akan dipublikasikan dalam kegiatan webinar ini adalah Bali (sebagai destinasi utama pariwisata Indonesia), Batam-Bintan (sebagai destinasi cross border), dan juga Yogyakarta (sebagai salah satu dari 5 Destinasi Super Prioritas Indonesia). (Rindra Devita/balipost)

BAGIKAN

1 KOMENTAR

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.