Gubernur Bali Wayan Koster sebut penurunan jumlah Nyoman dan Ketut berpengaruh pada menurunnya penjaga budaya Bali, Denpasar, Rabu 18/2/2026). (BP/Antara)

DENPASAR, BALIPOST.com – Gubernur Bali Wayan Koster menyoroti rendahnya pertumbuhan penduduk di Bali. Dari data yang dimiliki Pemprov Bali, pertumbuhan penduduk Bali mengalami kenaikan tidak sampai 1 persen dibandingkan tahun lalu, tepatnya 0,66 persen.

Ia mengatakan dengan rendahnya pertumbuhan penduduk ini, penjaga budaya Bali akan menurun.

“Kalau ini tidak dikelola dengan baik maka Nyoman (sebutan untuk anak ketiga) dan Ketut (sebutan untuk anak keempat) hilang, itu sebenarnya penjaga budaya kita, kalau dia menurun siapa yang akan mengurus budaya Bali ini,” kata Gubernur Koster di Denpasar, Rabu (18/2) dikutip dari Kantor Berita Antara.

Ia mengungkapkan seiring rendahnya pertumbuhan penduduk asli Bali, jumlah penduduk pendatang makin banyak. “Ada kegiatan odalin, purnama, tilem, Galungan, Kuningan, Saraswati, segala macamnya itu yang harus kita waspadai, kalau sampai ini tidak berjalan dengan baik secara berkelanjutan, ke depan budaya Bali ini akan hilang,” ujarnya.

Baca juga:  Empat Zona Merah di Bali Tambah Korban Jiwa COVID-19, Termuda Usia 1 Bulan

Gubernur Koster menyakini jika penjaga budaya atau penduduk Bali yang menjalankan upacara ini hilang maka jangan berharap Bali masih memiliki masa depan.

Sebab, selama ini kehidupan sosial dan ekonomi Bali tumbuh berakar dari budaya sebagai hulunya dan berpotensi kalah saing dari negara lain ketika itu hilang.

Pemprov Bali mengajak masyarakat tidak terlalu bangga dengan prestasi Bali yang berhasil menjalankan program pemerintah sejak era Presiden Soeharto yaitu mendorong Keluarga Berencana (KB) dua anak.

Baca juga:  Dari Jenazah Wanita Mengapung di Pantai Sanur hingga Tiga Pria NTT Ditangkap

Terbukti atas gencarnya program ini, BPS memprediksi pertumbuhan penduduk Bali akan terus melambat hingga 2050 jika tidak diantisipasi.

“Jangan sampai seperti di Jepang fenomenanya sekarang tidak mau menikah, atau mau nikah tapi tidak mau punya anak, atau mau menikah tapi punya anak cuma satu, maka dia defisit (penduduk) Tokyo itu, maka dia memberikan insentif untuk orang mau datang,” kata Koster.

Berkaca dari kebijakan negara lain, Pemprov Bali terus mendorong penduduk melakukan KB empat anak sehingga nama Nyoman dan Ketut tetap ada.

Baca juga:  Kalahkan Kamboja, Timnas Indonesia Juara

Saat ini penduduk dengan nama depan Ketut atau anak keempat hanya tersisa 4,5 persen dari total penduduk Bali yang sebanyak 4,4 juta orang.

Sejak periode pertama menjabat, Gubernur Koster terus menggaungkan pelestarian anak Nyoman dan Ketut, dan tahun ini ia berencana memulai pemberian insentif bagi pemilik nama tersebut.

“Kalau tidak kita dorong ini yang paling pertama punah Ketut, tidak sampai 50 tahun lagi Ketut ini tinggal di museum dia, kemudian Nyoman yang kedua terancam karena saat ini paling banyak itu adalah anak pertama (Putu/Wayan/Gede) persentasenya paling tinggi 39 persen jadi ini gambaran buruk demografi kita di Bali,” ujarnya. (kmb/balipost)

BAGIKAN