Beberapa siswi tengah menulis di daun lontar saat lomba nyurat aksara Bali pada Pesta Kesenian Bali (PKB) XL di Taman Budaya Bali, Selasa (3/7). (BP/dok)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pesta Kesenian Bali (PKB) XLII Tahun 2020 ‘’Atma Kerthi: Penyucian Jiwa Paripurna’’ akan digelar 13 Juni hingga 11 Juli. Sedikitnya ada delapan materi PKB yang nanti disuguhkan kepada masyarakat.

Yakni peed agung (pawai), wimbakara (lomba), kriyaloka (lokakarya/workshop), widyatula (sarasehan), utsawa (parade), rekasadana (pagelaran), kandarupa (pameran), serta penghargaan untuk seniman tua yang kini diberi nama Adhi Sewaka Nugraha. “Ada beberapa kabupaten yang absen pada materi tertentu. Sementara ini yang berpartisipasi penuh antara lain Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali I Wayan ‘’Kun’’ Adnyana, Selasa (25/2).

Menurutnya, kabupaten/kota yang belum memastikan bisa tampil di semua materi parade jika memiliki anggaran lebih, bisa mengirim kontingen pada pementasan di luar parade dengan dibiayai kabupaten/kota.

Saat ini, Dinas Kebudayaan saat ini juga masih membuka ruang bagi lembaga seni, baik sanggar, sekaa maupun yayasan untuk menyampaikan usulannya bila ingin mengisi acara di PKB. “Termasuk juga lembaga seni dari luar daerah dan luar negeri, sehingga nanti bisa diseleksi oleh kurator,” imbuhnya.

Ia mengaku akan menunggu sampai minggu kedua atau minggu ketiga pada Maret 2020. Untuk proses produksi hingga pementasan yang bersifat inisiatif ini, sepenuhnya dibiayai lembaga seni dimaksud.

Panitia PKB hanya menyiapkan panggung, sarana-prasarana panggung, dan stage crew. Sementara ini, partisipan luar daerah yang akan tampil di antaranya DKI Jakarta, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur dan NTB.

Dari luar negeri yang menyatakan berpartisipasi antara lain India, Jepang, Selandia Baru dan Australia. Dalam sehari, diperkirakan ada 8 hingga 10 pementasan di ajang PKB dari pagi hingga malam.

Tahun ini, slot panggung akan bertambah dengan turut dimanfaatkannya panggung di ISI Denpasar seperti Natya Mandala dan Nertya Mandala. “Dengan demikian, Taman Budaya dan ISI terisi dan diatur sehingga flow penonton terus ritme pagelaran bisa harmonis. Kita tidak pakai lagi panggung di depan Gedung Kriya karena dekat kuliner, tempat pentasnya juga sempit, ruang penonton apalagi,” jelasnya. (Rindra Devita/balipost)

BAGIKAN