Ilustrasi. (BP/dok)

DENPASAR, BALIPOST.com – Sebuah lembaga sosial yang bergerak untuk remaja, Kita Sayang Remaja (Kisara) pernah melakukan survei terhadap 700 remaja di Bali. Dari 700 remaja tersebut, 20-30 persen r atau mengetahui temannya berbagi foto vulgar.

Sedangkan untuk video, 46 persen dari 700 remaja, sudah mengakses dan berbagi video porno. Sebagian ada yang mendapatkannya lewat WhatsApp grup, sebagian besar mengaksesnya di Twitter.

Ketua Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (Peradah) Provinsi Bali, I Komang Agus Widiantara, M.I.Kom., mengatakan fenemona remaja yang terpapar konten porno di internet bukanlah gejala baru. Bahkan, fenomena ini merundung hampir semua generasi muda saat ini. Tanpa terkecuali.

Apalagi, dikatakan bahwa pada fase remaja masa transisi secara psikologi mendorong rasa ingin tahu dan “budaya” mencoba remaja sangatlah tinggi. Menyikapi hal tersebut, penyakit sosial ini remaja tentu tidak etis jika sepenuhnya diberikan tanggung jawab kepada lembaga pendidikan.

Melainkan juga tanggung jawab semua pihak. Terutama keluarga yang memberikan fasilitas teknologi yang secara langsung mendukung aktivitas digital remaja saat ini.
“Apabila mengacu pada teori determinasi teknologi, kepribadian dan tabiat manusia saat ini dibentuk dari perangkat teknologi informasi, baik dalam hal berpikir, bertindak dan berbuat. Hal itu berlaku pada pemuda Bali. Perbuatan baik atau buruk yang dilakukan outputnya tergantung konten yang mereka konsumsi setiap harinya. Apakah sifatnya edukatif,  informatif, menghibur maupun menumbuhkan kepekaan sosial,” ujar pria asal Nusa Penida ini, Sabtu (1/2).

Agus Widiantara mengakui bahwa melarang remaja untuk tidak bermedia sosial atau mengakses internet tentu tidaklah mudah dan bukanlah solusi. Namun, menciptakan kebiasaan produktif dengan berinternet adalah solusi agar internet tak sekadar aktivitas online yang tidak berarti.

Kuncinya yaitu ada pada habit. Mengubah kebiasaan buruk  berinternet menjadi positif. “Langkah ini perlu pengkondisian lingkungan dengan keterlibatan semua pihak, baik orang tua,  guru, maupun unsur pemerintah,” tegasnya.

Ada sejumlah saran yang ditawarkan untuk dilakukan agar remaja produktif dengan internet. Diantaranya, remaja diharapkan aktif di forum-forum atau komunitas online sesuai minat dan bakat, seperti olahraga, komunitas, dan lainnya.

Dengan aktif di forum online akan mendorong remaja tidak semata aktif di dunia maya, tetapi juga aktif dalam berbagai kegiataan offline komunitas yang bersamgkutan. Sehingga kreativitas, networking dan wawasan bertambah.

Selain itu, juga disarankan agar pemuda mampu memanfaatkan internet untuk mempelajari skill-skill baru. Tren pendidikan go online bisa digunakan remaja untuk belajar keahlian atau ilmu baru.

Kelas-kelas dengan pengajar terbaik dan publik figur bisa menjadi salah satu solusi. Di samping itu juga, sekolah/pemerintah harus mampu melatih pemuda untuk berwirausahaan /entrepreneur melalui proses online (edukasi).

Pemerintah juga harus menciptarakan ruang kreatif/startup bagi pemuda di tengah kota yang terintegrasi. Sehingga bisa menghilangkan rasa suntuk atas pelajaran sekolah yang membosankan. “Yang terakhir, kegiatan  literasi digital dari sekolah/pemerintah harus dikemas dengan konsep ramah milenial,” ujarnya. (Winatha/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.