Sejumlah warga melihat ragam makanan yang ada di Kuliner Pasar Badung, Denpasar. BPS mencatat secara bulanan pada Oktober 2026 Kota Denpasar mengalami inflasi sebesar 0,18 persen. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Denpasar mencatat inflasi tahunan atau year on year (yoy) pada Oktober sebesar 3,63 persen dengan indeks harga konsumen (IHK) sebesar 115,34. Secara bulanan (month-to-month), inflasi Denpasar sebesar 0,18 persen dan secara tahun kalender (year-to-date) sebesar 3,08 persen. Apa saja komoditas yang mempengaruhinya?

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Denpasar, komoditas yang dominan memberikan andil terhadap inflasi tahunan yakni bensin, cabai rawit, kue basah, nasi dengan lauk, sewa rumah, canang sari, sigaret putih mesin (SPM), minyak goreng, pepes, air kemasan, bahan bakar rumah tangga, beras, emas perhiasan, daging babi, angkutan udara, ayam goreng, biaya pendidikan TK, biaya pendidikan akademi/perguruan tinggi, pemeliharaan/service, dan ongkos binatu/laundry.

Sementara, komoditas yang dominan memberikan andil inflasi bulanan yakni canang sari, cabai merah, sawi hijau, cabai rawit, sigaret putih mesin, kol putih/kubis, buncis, labu siam/jipang, pakcoy, telepon seluler, perbaikan ringan kendaraan, bayam, daging babi, pisang, rampela hati ayam, hio/dupa, mainan anak, dan jagung manis.

Baca juga:  Babi, Satu-satunya Komoditas Ternak Ekspor

Inflasi tahunan yang terjadi karena naiknya harga komoditas-komoditas amatan yang ditunjukkan oleh naiknya sepuluh indeks kelompok pengeluaran yaitu kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 4,68 persen; kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 2,55 persen; kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 1,75 persen; kelompok kesehatan sebesar 3,78 persen; kelompok transportasi sebesar 6,16 persen; kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 1,07 persen; kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,56 persen; kelompok pendidikan sebesar 2,51 persen; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 5,02 persen; serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 2,76 persen. Sementara, kelompok pakaian dan alas kaki tidak mengalami perubahan/stagnan.

Baca juga:  Danone AQUA Mengkampanyekan Daur Ulang Sampah Botol Plastik di Bali Marathon 2017

Di sisi lain, beberapa komoditas juga nampak menyumbang deflasi yakni secara tahunan diantaranya, daging ayam ras, bawang merah, bawang putih, celana pendek pria, pembalut wanita, sandal karet wanita, pasta gigi, sawi hijau, baju kebaya, hand body lotion, kemeja pendek batik pria, air teh kemasan, pepaya, mangga, minuman kesegaran, sandal kulit pria, bawang bombay, sabun mandi cair, kemeja panjang katun pria, dan pembersih lantai.

Sementara, komoditas penyumbang deflasi bulanan yakni tongkol diawetkan, semangka, bawang putih, angkutan udara, mangga, daging ayam ras, ikan tongkol, ketimun, ikan mujair, baju kaos tanpa kerah wanita, telur ayam ras, deterjen cair, celana pendek pria, cumi-cumi, apel, dan kacang panjang.

Baca juga:  Rela Antre Sejak Pagi, Masyarakat Serbu Canang Sari Rp157 Per Bungkus

Kabag Perekonomian Setda Kota Denpasar, Putu Agus Mahendra Udayana, S.E., M.M., Jumat (6/11), mengatakan, beberapa komoditas perlu diwaspadai yang turut menyumbang inflasi. Seperti sayur-mayur yang pergerakan cukup tinggi. Selain itu, cabai menjadi komoditas yang paling riskan memicu inflasi bulan ini.

“Karena sudah memasuki musim hujan, jadi cabai sangat perlu kita waspadai sebagai penyumbang inflasi. Selain itu, komoditas lainnya masih sama kayak bulan-bulan sebelumnya yang memang perlu diwaspadai, seperti sayur dan lainnya,” katanya. (Widiastuti/balipost)

BAGIKAN