Ketua Fraksi PDI Tabanan, I Putu Eka Nurcahyadi saat meninjau langsung keberadaan SMPN 5 Kediri.(BP/istimewa)

SINGASANA, BALIPOST.com – Keterbatasan ruang kelas masih menjadi persoalan di SMP Negeri 5 Kediri, Kabupaten Tabanan. Selama dua tahun terakhir, sekolah yang berada di wilayah Kediri Timur ini terpaksa menerapkan sistem pembelajaran dua sif (double shift) untuk bisa mengakomodasi kegiatan belajar mengajar. Mengatasi kondisi tersebut, pembangunan enam ruang kelas baru tengah diperjuangkan agar kegiatan belajar mengajar tidak lagi berlangsung hingga dua shift.

Kebutuhan akan ruang belajar itu menjadi perhatian Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Tabanan, I Putu Eka Nurcahyadi, yang sebelumnya dua kali turun langsung ke sekolah untuk melihat perkembangan sekaligus menyerap aspirasi. Persoalan tersebut kembali disampaikan saat upacara pemelaspasan Padmasana SMPN 5 Kediri, bertepatan dengan Hari Raya Saraswati, Sabtu (31/10).

Baca juga:  Dokter Gadungan, Perempuan Ini Ditangkap

Eka Nurcahyadi mengatakan, saat ini SMPN 5 Kediri memiliki delapan ruang kelas. Karena keterbatasan tersebut, kegiatan belajar mengajar harus dibagi menjadi dua shift.

“Siswa kelas VII yang mendapat jadwal masuk pada sore hari,” ucapnya dikonfirmasi Minggu (1/11).

Menurutnya, penambahan enam ruang kelas baru menjadi kebutuhan mendesak agar seluruh siswa bisa mengikuti pembelajaran tanpa harus bergantian waktu. Pihaknya memperjuangkan pembangunan gedung kelas baru bertingkat dua lantai.

Selain kekurangan ruang kelas, kondisi sejumlah ruangan penunjang juga memprihatinkan. Ruang perpustakaan dan laboratorium yang secara administrasi telah dihapus saat ini dimanfaatkan sebagai ruang guru. Bahkan, kondisi bangunan tersebut sudah mengalami kebocoran.

Eka mengungkapkan, SMPN 5 Kediri mulai difungsikan pada 2018 dengan harapan dapat memecah kepadatan siswa di SMPN 1 Kediri. Saat itu, pemerintah daerah melalui Sekda Tabanan juga menyampaikan komitmen untuk memperjuangkan pembangunan gedung sekolah.

Baca juga:  Tangani COVID-19, Satgas Diminta Perhatikan Logistik Kesehatan

Namun, hingga sekolah berjalan sekitar lima tahun dan jumlah rombongan belajar mencapai 12 kelas, pembangunan tambahan ruang kelas belum terealisasi. Padahal, kepercayaan masyarakat terhadap keberadaan SMPN 5 Kediri terus tumbuh.

“Sekarang masyarakat sudah mulai percaya dengan SMPN 5 Kediri. Guru-gurunya juga sangat bagus mengajar dan kegiatan ekstrakurikuler berjalan baik. Tinggal persoalan bangunan yang harus kita perjuangkan agar siswa tidak lagi belajar dengan sistem double shift,” ujarnya.

Ia menambahkan, selain pembangunan enam ruang kelas baru, pihaknya juga mendorong penataan akses menuju sekolah. Jalan masuk nantinya diharapkan dapat dipaping dan dilengkapi jalur pedestrian sehingga lebih nyaman bagi siswa maupun warga sekolah.

Baca juga:  Buang Sampah Sembarangan di Desa Adat Lodtunduh Bakal Didenda Rp5 Juta

Sementara itu, Wakil Bupati Tabanan I Made Dirga menyatakan siap mengawal usulan pembangunan enam ruang kelas baru melalui APBD Kabupaten Tabanan bersama DPRD Tabanan. Menurutnya, SMPN 5 Kediri memiliki peran penting dalam memperluas akses pendidikan, khususnya bagi masyarakat Kediri Timur dan Desa Abiantuwung.

Sekolah yang dirintis sejak 2018 itu menjadi alternatif bagi masyarakat agar tidak seluruhnya bergantung pada SMPN 1 Kediri. Pemenuhan sarana pendidikan dinilai perlu mendapat perhatian agar proses belajar mengajar dapat berlangsung lebih baik.

Dirga juga mengingatkan pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman serta bebas dari perundungan atau bullying. Sekolah diharapkan menjadi tempat bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan sekaligus membangun karakter.(Puspawati/balipost)

BAGIKAN