
DENPASAR, BALIPOST.com – Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida memetakan puluhan desa di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung yang berpotensi terdampak banjir menjelang musim hujan yang diperkirakan mulai November 2026. Berdasarkan analisis hidraulika pada tiga daerah aliran sungai (DAS), potensi wilayah terdampak mencapai 1.680,2 hektare.
Kesiapsiagaan dilakukan melalui pengerukan sedimen, perbaikan tanggul, hingga pemeriksaan sarana pengendalian banjir. Dari tiga DAS yang dianalisis, DAS Ayung memiliki potensi genangan terluas, yakni 754,36 hektare yang mencakup 28 desa. Berikutnya, DAS Mati dengan potensi genangan 725,11 hektare di 15 desa dan DAS Badung seluas 200,73 hektare di sembilan desa.
Satuan Kerja Operasi dan Pemeliharaan Sumber Daya Air BWS Bali-Penida, Wayan Riyasa, menjelaskan sekitar 60 persen potensi genangan berada di sekitar aliran sungai. Kondisi ini menjadi perhatian dalam upaya mengantisipasi peningkatan curah hujan pada musim hujan mendatang.
Sejumlah lokasi yang perlu diwaspadai antara lain Jalan Gajah Mada dan Jalan Pura Demak di Denpasar, Jalan Dewi Sri di Kuta, Jalan Kunthi di Seminyak, Underpass Dewa Ruci, serta Jalan Hasanudin.
Di sisi penanganan fisik, BWS Bali-Penida telah menyelesaikan pengerukan sedimen di Tukad Badung sepanjang satu kilometer dengan volume material yang diangkat mencapai 1.600 meter kubik. Sementara itu, pekerjaan di Waduk Muara masih berlangsung.
PPK Operasi dan Pemeliharaan Sumber Daya Air III BWS Bali-Penida, I Wayan Budiyasa, mengatakan pengerukan di Tukad Badung telah mencapai 100 persen. “Kita gali sedimen kemarin di Tukad Badung, sepanjang 1 KM dengan volume 1.600 m3. Progres sudah 100 persen,” ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (29/10).
Selain pengerukan, perbaikan bantaran sungai juga dilakukan pada bagian yang mengalami kerusakan akibat banjir tahun lalu. Upaya tersebut menjadi bagian dari penanganan untuk mengurangi risiko kerusakan berulang ketika debit air meningkat.
“Yang kemarin rusak karena banjir tahun lalu,” kata Budiyasa.
Untuk penanganan jangka pendek, BWS Bali-Penida menyiapkan perbaikan tanggul pada titik-titik kritis serta pemeriksaan berkala terhadap sarana pengendalian banjir. Pemeriksaan dilakukan setiap bulan terhadap pompa dan rumah pompa Tukad Mati, pompa bergerak atau mobile pump, serta Waduk Muara.
Pemeliharaan rutin juga dilakukan di sepanjang aliran sungai, termasuk perabasan vegetasi di bantaran dan pembersihan sampah yang berpotensi menghambat aliran air.
Di Tukad Badung, selain pengerukan sedimen sepanjang 1.000 meter yang telah rampung, perbaikan tanggul direncanakan sepanjang 263 meter. Di Tukad Mati, perbaikan tanggul ditargetkan sepanjang 131,2 meter, sedangkan di Tukad Ayung sepanjang 61,5 meter.
Penanganan tersebut menjadi penting mengingat banjir bandang yang melanda Denpasar pada 10 September 2025 mengakibatkan kerusakan tanggul dan sempadan sungai di sejumlah titik. Tukad Badung dan Tukad Mati mengalami kerusakan tanggul pasangan batu kali, termasuk jebol di beberapa lokasi. Sementara itu, dinding penahan tanah di Tukad Ayung juga mengalami kerusakan.
Riyasa sebelumnya menyebutkan BWS Bali-Penida mengusulkan anggaran Rp 4,326 miliar kepada pemerintah pusat untuk memperbaiki bantaran ketiga sungai tersebut. Anggaran yang diusulkan terdiri atas Rp 1,72 miliar untuk Tukad Badung, Rp 1,78 miliar untuk Tukad Mati, dan Rp 826 juta untuk Tukad Ayung.
“Kami targetkan perbaikan ketiga sungai itu harus tuntas sebelum akhir tahun,” kata Riyasa.
Selain langkah jangka pendek, BWS Bali-Penida juga menyiapkan penanganan jangka panjang pada sistem DAS Badung, DAS Ayung, dan DAS Mati. Upaya ini diarahkan untuk memperkuat kapasitas sungai dan sistem pengendalian banjir.
Pada DAS Badung, rencana penanganan meliputi penanganan Bendung Mertagangga, rehabilitasi Bendung Batanyuh, serta evaluasi dan perencanaan pola operasi banjir di Waduk Muara Nusa Dua untuk mendukung pengendalian banjir Tukad Badung.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian berada di kawasan Bendung Mertagangga. Lebar Tukad Badung di lokasi tersebut disebut menyempit dari 28 meter menjadi 12 meter. Rencana penanganan mencakup pelebaran sungai hingga 30 meter serta perubahan bendung eksisting menjadi bendung gerak atau barrage.
Sementara itu, rencana penanganan DAS Ayung mencakup pembangunan dua kolam retensi masing-masing seluas lima hektare dan 4,3 hektare, normalisasi muara Tukad Ayung, serta pembangunan jetty. Adapun rencana penanganan DAS Mati juga tercantum dalam paparan BWS Bali-Penida, meskipun rincian pelaksanaan dan jadwalnya belum disebutkan.
Kesiapsiagaan menghadapi musim hujan turut didukung ketersediaan material dan peralatan penanganan banjir. BWS Bali-Penida mencatat ketersediaan 829 lembar bronjong kawat berukuran 2 x 1 x 0,5 meter dari kebutuhan 5.000 lembar.
Selain itu, tersedia 66 lembar geobag jumbo berukuran 1 x 6 meter dari kebutuhan 500 lembar. Geobag non-woven berukuran 1,3 x 1 meter tersedia sebanyak 2.530 lembar sesuai kebutuhan yang tercantum.
Material lainnya meliputi 500 lembar jumbo bag woven dari kebutuhan 1.000 lembar, 180 lembar geobox non-woven berukuran 6 x 1 x 1 meter, serta 120 lembar geobox non-woven berukuran 4 x 1 x 1 meter. Material tersebut disimpan di Gudang Angantaka dan Gudang Klungkung.
Dari sisi peralatan, sejumlah sarana pendukung tercatat dalam kondisi baik. Peralatan tersebut meliputi ekskavator standar, weed harvester, ekskavator long arm, ekskavator loader, ekskavator amfibi mini, dump truck, truk angkut, motor roda tiga, pompa air, genset, dan perahu fiber mini.
Tersedia pula backhoe loader, ekskavator PC 75, truck mounted crane, ekskavator amfibi mini 13 ton, serta tiga unit mobile tanki pump. Peralatan itu tersebar di Waduk Muara, Gudang Klungkung, Danau Buyan, dan Kantor BPBPK.
Pemetaan wilayah rawan, pengerukan sedimen, perbaikan tanggul, serta kesiapan material dan peralatan menjadi bagian dari langkah BWS Bali-Penida dalam menghadapi potensi genangan di Denpasar dan Badung. Dengan sekitar 60 persen potensi genangan berada di sekitar aliran sungai, pemeliharaan infrastruktur dan penanganan titik kritis menjadi perhatian menjelang peningkatan curah hujan. (Ketut Winata/balipost)









