Museum Taman Perdamaian Bali di eks Sari Club, Badung, ditarget rampung Desember 2026. Mengusung filosofi Samsara dan pesan toleransi pascatragedi Bom Bali.(BP/par)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Pemerintah Kabupaten Badung tengah membangun Museum Taman Perdamaian Bali. Museum yang terletak di lahan eks Sari Club, sebelah barat Monumen Ground Zero ini ditargetkan penyelesaian pada akhir Desember 2026.

Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung, I Gede Sukadana, menjelaskan bahwa progres pembangunan museum secara keseluruhan telah mencapai 30 persen. Meski masih dalam tahap pengerjaan, Pemkab Badung tetap mengacu pada jadwal yang telah ditetapkan.

“Di bangunan sendiri, kalau kita lihat di nominal, itu memang lebih besar di MEP-nya, yakni Mechanical, Electrical, dan Plumbing. Tapi secara keseluruhan, sesuai dengan target Kurva S kita, di akhir Desember ini kelar,” ungkap Gede Sukadana pada Selasa (13/10).

Baca juga:  GMNI Minta Pemerintah Tepati Janji Buka Pariwisata Bali

Sukadana menegaskan, target penyelesaian tidak hanya mencakup struktur bangunan. Sejumlah fasilitas penunjang, seperti video wall, generator set (genset), dan lift, juga ditargetkan rampung pada Desember tahun ini. “Itulah target kita di Desember ini,” tegasnya.

Museum Taman Perdamaian Bali dirancang dengan mengusung filosofi Samsara yang menggambarkan siklus kehidupan, mulai dari lahir, hidup, hingga mati. Konsep tersebut diterjemahkan melalui pembagian area museum yang memiliki makna berbeda. Area belakang menggambarkan kelahiran, bagian depan merepresentasikan kehidupan, sedangkan area tengah melambangkan kematian. Melalui konsep tersebut, museum diharapkan tidak hanya menjadi ruang untuk mengenang tragedi Bom Bali, tetapi juga menyampaikan pesan tentang toleransi dan kemanusiaan. “Ini juga akan menceritakan bagaimana pasca tragedi, termasuk bagaimana menghidupkan kembali rasa toleransi tanpa membedakan ras, suku, agama,” katanya.

Baca juga:  Masyarakat Diminta Waspadai Angin Kencang di Bali

Setelah pembangunan selesai, Sukadana berharap masyarakat ikut menjaga dan memelihara museum agar keberadaannya dapat memberikan manfaat berkelanjutan. Pemkab Badung juga membuka kemungkinan pengelolaan museum melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah dinas terkait. Ke depan, pengelolaan tersebut berpotensi dikembangkan menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), sehingga museum dapat menghasilkan dan mengembangkan berbagai kegiatan dari potensi yang dimilikinya.

Pembangunan Museum Taman Perdamaian Bali turut mendapat apresiasi dari penyintas dan keluarga korban tragedi Bom Bali. Koordinator Yayasan Isana Dewata, Theolina Marpaung, menyampaikan penghargaan kepada Pemkab Badung atas inisiatif menghadirkan ruang untuk mengenang tragedi sekaligus menyebarkan pesan perdamaian. Ia berharap museum tersebut mampu menjadi sarana edukasi kemanusiaan dan memperkuat posisi Bali sebagai salah satu pusat pesan perdamaian dunia.

Baca juga:  Puncak IBTK, Gubernur Koster Doakan Jagad dan Krama Bali Rahayu

Menurutnya, perdamaian merupakan fondasi penting dalam kehidupan bermasyarakat. Tanpa perdamaian, kehidupan akan sulit berjalan dengan baik. “Kita percaya, perdamaian itu sangat penting untuk kita semua. Tanpa perdamaian, hidup kita akan berantakan,” ucapnya seraya berharap kehadiran Museum Taman Perdamaian Bali menjadi pengingat bahwa tragedi kemanusiaan tidak boleh terulang. (Parwata/balipost)

 

BAGIKAN