
MANGUPURA, BALIPOST.com – Museum Yadnya, Mengwi menyimpan potensi untuk memperkaya pengalaman wisata budaya di Bali. Meski kini telah dibuka, museum milik Pemerintah Kabupaten Badung ini masih memerlukan berbagai terobosan agar semakin menarik dikunjungi wisatawan sekaligus menjadi ruang edukasi bagi masyarakat untuk mengenal tradisi dan prosesi upacara keagamaan Hindu.
Raja Puri Mengwi, Ida Cokorda Mengwi XIII, berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Badung melalui Dinas Kebudayaan menghadirkan terobosan untuk meningkatkan kunjungan ke museum tersebut. Menurutnya, Museum Yadnya memiliki potensi untuk melengkapi daya tarik wisata sekaligus memperkuat pelestarian budaya Bali. “Kita berharap adanya museum bisa menunjang wisatawan. Bahkan perlu adanya terobosan-trobosan agar menarik wisatawan,” ujarnya belum lama ini.
Ia menegaskan, Museum Yadnya tidak seharusnya hanya menyasar wisatawan asing. Lebih dari itu, museum perlu menjadi bagian dari kawasan budaya yang berfungsi menjaga, mengenalkan, dan mewariskan tradisi, khususnya berbagai prosesi yadnya di Badung. “Museum itu harus ada, museum ogoh-ogoh, museum subak, museum Yadnya. Karen museum tidak hanya untuk wisatawan, untuk kita pun sangat bermanfaat untuk pembelajaran pada diri kita,” tegasnya.
Museum Yadnya dapat terintegrasi dengan Pura Taman Ayun yang telah menyandang status Situs Warisan Dunia UNESCO. Kolaborasi tersebut dinilai berpeluang memperluas pengalaman wisatawan sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Mengwi. Meski demikian, ia menyadari bahwa pola perjalanan wisatawan tidak bisa diatur sepenuhnya. Karena itu, pengelola perlu menghadirkan daya tarik yang unik agar pengunjung tertarik mendatangi museum.
“Harapan saya begitu, tapi kita mengatur wisatawan itu kan tidak bisa seperti maunya kita. Apa dia harus kesana (Museum -red) sebelum ke Taman Ayun, atau kesana kemari. Namun kita harus bisa memberikan sesuatu yang unik agar wisatawan itu tertarik,” imbuhnya.
Sebelumnya, pembangunan fisik Museum Yadnya yang dimulai pada 2025 telah rampung. Namun, penyajiannya masih memerlukan penyempurnaan, terutama pada sarana pendukung dan informasi mengenai koleksi yang dipamerkan. Di bagian depan gedung, penataan sudah terlihat.
Sementara itu, di dalam museum terdapat patung yang mengenakan pakaian adat Bali untuk berbagai keperluan upacara, seperti pernikahan dan potong gigi. Lantai dua menampilkan rangkaian prosesi kehidupan umat Hindu, mulai dari upacara megedong-gedongan, tiga bulanan, potong gigi, pernikahan, hingga prosesi kematian dan pengabenan.
Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung, I Gede Sukadana, mengakui bahwa koleksi dan penyajian museum masih dalam tahap kurasi. Setelah pembangunan fisik selesai, Pemkab Badung menyiapkan konsep penyajian yang lebih menarik dan modern. “Renovasi tidak hanya diarahkan untuk memperbaiki kondisi bangunan, tetapi juga menghidupkan kembali fungsi Museum Yadnya sebagai pusat edukasi dan informasi kebudayaan Bali,” katanya. (Parwata/balipost)










