
MANGUPURA, BALIPOST.com – Pemerintah Kabupaten Badung, melalui Dinas Pariwisata (Dispar)mulai mendorong strategi pariwisata berkualitas dengan memperluas promosi destinasi hingga wilayah tengah dan utara Badung. Kondisi ini menjadi perhatian pemerintah untuk menciptakan kunjungan wisatawan yang lebih merata sepanjang tahun.
Kabid Promosi Dinas Pariwisata Kabupaten Badung, Ketut Widinegara, mengungkapkan pengembangan berbagai kegiatan dan event pariwisata menjadi salah satu strategi untuk memperkuat daya tarik Badung. Pemerintah juga mendorong penyelenggaraan event berkelanjutan yang mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan perekonomian daerah.
“Salah satu agenda yang disiapkan adalah Barong Festival pada 6–7 November 2026 di Taman Ayun, yang masuk dalam program Kharisma Event Nusantara (KEN). Festival ini diharapkan memperkuat promosi seni dan budaya sekaligus menambah daya tarik wisata Badung,” jelas Ketut Widi pada Minggu (25/10).
Selama ini, kata Widi kawasan selatan Badung masih mendominasi aktivitas pariwisata. Padahal, wilayah tengah dan utara memiliki potensi budaya, alam, serta agrowisata yang dapat dikembangkan. Karena itu, Dinas Pariwisata Badung membagi arah pengembangan destinasi berdasarkan karakteristik wilayah.
“Kawasan selatan diarahkan untuk hiburan dan akomodasi, wilayah tengah untuk budaya dan kesenian, sedangkan wilayah utara dikembangkan melalui konsep ekowisata,” ujarnya.
Untuk memperkenalkan potensi tersebut, Dispar Badung menjalankan program post tour dan farm trip dengan melibatkan pelaku industri perjalanan, termasuk dari India dan Asia Timur. Mereka diajak mengunjungi sejumlah destinasi, seperti Sangeh, Taman Ayun, serta desa wisata, agar mengenal langsung daya tarik, pelayanan, dan pengalaman wisata yang ditawarkan.
“Wilayah Sulangai juga memiliki peluang pengembangan melalui potensi pertanian, air terjun, jalur tracking, dan desa wisata. Namun, pengembangan tetap memerlukan kesiapan fasilitas, keselamatan, pelayanan, dan keterlibatan masyarakat setempat,” ungkapnya.
Ia menegaskan keberhasilan pariwisata tidak cukup diukur dari jumlah kedatangan wisatawan. Pemerintah juga perlu memperhatikan lama tinggal, pengeluaran wisatawan, kepedulian terhadap lingkungan, serta penghormatan terhadap budaya lokal. Karena itu, pembinaan terhadap pengelola destinasi terus dilakukan, termasuk terkait keselamatan, manajemen risiko, pelayanan, dan penerapan sistem tiket elektronik.
“Kami juga berkoordinasi dengan perangkat daerah dan pemangku kepentingan untuk menangani persoalan yang memengaruhi kenyamanan wisatawan,” katanya.
Menghadapi musim liburan akhir tahun, kesiapan infrastruktur, kemacetan, dan sampah tetap menjadi perhatian. Penanganan persoalan tersebut membutuhkan koordinasi lintas instansi, termasuk dukungan pembangunan jalan dan pengelolaan lingkungan.
“Pola kunjungan wisatawan ke Bali cenderung meningkat pada Juli dan Agustus, kemudian melandai hingga November sebelum kembali naik pada Desember,” ucapnya.
Di sisi promosi, Dispar Badung juga membuka peluang kolaborasi dengan pelaku industri, tokoh pariwisata, dan pembuat konten untuk menyampaikan informasi yang lebih akurat mengenai kondisi destinasi.
“Kami berharap Badung tidak hanya dikenal melalui kawasan selatan, tetapi juga melalui kekayaan alam dan budaya di wilayah tengah dan utara yang berpotensi memberikan manfaat ekonomi lebih merata bagi masyarakat lokal,” pungkasnya.(Parwata/balipost)










